dhimas dwi fakhrozi – 125120500111013

TUGAS KE-1

TEORI POLITIK

1. Plato
• Alasan memilih Plato
Pemikiran Plato merupakan suatu pemikiran yang sangat mempengaruhi dalam beberapa bidang pengetahuan terutama Filsafat dan pemikiran politiknya.bahkan mempengaruhi pemikir intelektual muslim abad tengah .Plato juga merupakan Pilar peradaban Barat pada dewasa ini.Dengan pemikirannya juga Plato adalah orang yang pertama melihat pentingnya lembaga pendidikan sehingga memotivasinya untuk membangun akademi pengetahuan

Sebagai pemikir,reputasi Plato mungkin melebihi reputasi gurunya,Socrates.Alferd North Wihitehead,Filosof Amerika mengemukakan kebesaran Plato itu.Ia berrpendapat bahwa sejarah seluruh Filsafat Barat hanyalah merupakan rangakaian catatan kaki (footnote) Plato .

• Pemikiran Plato
Kitab Politeia membicarakan masalah manusia sebagai suatu keseluruhan, segala aspek diri manusia itu dalam hubungannya dengan masyarakat, malah dalam hubungannya pula dengan jagat raya. Kitab tersebut menguraikan ajaran-ajaran praktis dalam pengertian ajaran-ajaran yang perlu dan harus diwujudkan. Dalam Kitab tersebut membicarakan empat masalah besar:

1. Metafisika
Mencari dan membiarkan apa sebenarnya hakikat segala yang ada.
2. Etika
Tentang sikap yang benar dan baik, dan sebaliknya.
3. Pendidikan
Pendidikan yang harus dijalani seseorang dalam hidup ini.
4. Pemerintahan
Pemerintahan yang seharusnya, yang ideal.
Keempat masalah tersebut merupakan suatu kebulatan. Dalam menulis Politeia, Plato mengemukakan peringatan dan suruhan daripada mengadakan suatu analisis keadaan atau kejadian. Kemunduran Athena dengan merajalelanya ketidaktahuan yang disertai pula dengan kepentingan diri, berpangkal pada demokrasi-kuno yang bisa menempatkan seseorang pada jabatan-jabatan tanpa mempunyai syarat-syarat yang diperlukan. Kepentingan diri sendiri berpangkal pada sifat individualisme yang tidak dikendalikan, yang menyamakan kepentingan negara (masyarakat) dengan kepentingan orang-orang yang kebetulan sedang berkuasa. Plato tidak menafikan tentang harus adanya keselarasan kepentingan antara orang-orang dengan negara atau masyarakat, tetapi keselarasan itu menurut pendapatnya bukanlah dengan menyamakan kepentingan negara ini dengan kepentingan orang seorang, melainkan sebaliknya, yaitu kepentingan orang seoranglah yang harus disesuaikan dengan kepentingan masyarakat. Dengan demikian Plato lebih cenderung untuk menciptakan adanya rasa kolektivisme, rasa bersama, dari pada penonjolan pribadi orang-seorang.
Organisme adalah suatu kesatuan yang bulat di mana tiap anggota atau bagiannya merupakan alat yang tidak dapat dipisahkan dari rangka keseluruhan, dimana tiap anggota mempunyai fungsi atau tujuan tertentu yang sesuai dengan tujuan dari Organisme yang lebih besar, dimana tiap anggota atau bagian dapat berbuat, malah ada, karena adanya organisme itu. Organisme juga dipahami dengan melihat atau merasakan bahwa kalau ada bagian yang sakit, maka keseluruhan badan akan sakit, karena tiap bagian berhubungan dengan bagian yang lain. Tiap organisme mempunyai tujuan, dan tujuan ini tidak berlawanan, melainkan bersesuaian, antara yang satu dengan yang lain. Tujuan yang sama itu menghendaki adanya persesuaian dalam fungsi.
Keadilan akan tercapai bila tiap orang melakukan dan mengabdikan diri pada fungsi masing-masing sepenuhnya. Plato mengemukakan adanya analogi antara jiwa dan negara. Unsur yang di jumpai pada jiwa, dijumpai pula pada negara. Pada jiwa terdapat unsur keinginan, seperti lapar, dahaga, dan cinta. Adapula unsur logos (akal) yang dengannya manusia dapat belajar mengetahui sesuatu, dan karena mengetahui itu maka manusia mencintainya pula. Di antara kedua unsur itu dijumpai unsur semangat, yang menyangkut soal kehormatan. Unsur ini memberikan inspirasi manusia untuk bertempur, tetapi bukan didorong oleh rasa berontak terhadap ketidakadilan, dan rasa tunduk pada keadilan. Dalam jiwa, unsur ini berada diantara kedua unsur yang lain disertai kecenderungan untuk berpihak pada akal. Selaras dengan adanya ketiga unsur di dalam jiwa itu, maka dalam negarapun, terdapat tiga jenis kelas dengan fungsi masing-masing. Tiga jenis kelas tersebut adalah kelas Penguasa (yang mengetahui segala sesuatu), kelas pejuang atau Pembantu Penguasa (yang penuh semangat), dan kelas Pekerja(yang lebih mengutamakan keinginan dan nafsu.
Dengan demikian ketiga unsur jiwa tadi membentuk susunan negara. Adanya keinginan menyebabkan adanya asosiasi, perhubungan dan pergaulan antara manusia, suatu dasar pokok bagi adanya masyarakat atau negara. Manusia tidak dapat berdiri sendiri, ia memerlukan manusia lain. Terutama saling memerlukan kerjasama dalam mencukupi kebutuhan jasmani, seperti makan-minum, menyebabkan manusia itu tidak dapat berdiri sendiri.

• Relefansi pemikiran Plato pada saat ini
Pemikiran Plato yang menjadi dasar banyak pemikiran pada dewasa ini, pemikirannya tentang kepemilikan bersama merupakan dasar dari teori Komunisme pada sekarang ini.Selain itu seperti yang telah disebutkan diatas Pemikiran Plato tentang pentingnya lembaga pendidikan membawa lompatan besar dalam peradaban manusia karena perkembangan ilmu pangetahuan terus dapat ditingkatkan.

2. Niccollo Machiavelli
• Alasan memilih Niccollo Marchiavelli
Alasan memilih Marchiavelli adalah karena pemikiran dia merupakan pemikiran yang mempengaruhi sejarah dunia.Dengan pemikirannya yang dia tuangkan dalam bukunya The Prince dapat mempengaruhi seorang seperti Louis XIV sehingga mempengaruhi Raja untuk menjalankan pemerintahannya secara Tirani dan ditaktor,sehingga memunculkan revolusi Prancis yang terkenal dalam sejarah dan tentu saja pristiwa itu juga turut andil dalam menyulut pristiwa besar dunia selanjutnya.
Selain itu gagasannya menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi banyak penguasa sejak awal gagasan itu dipopulerkan sampai abad XX.Banyak negarawan dan penguasa dunia yang mengakui telah menjadikan buku Marchiavelli sebagai buku penggangan (hand Book) mereka dalam memperoleh dan mempertahankan kekuasaannya.misalnya Hitler dan Mossolini.Gagasan yang telah menjadi basis Intelektual bagi pelaksanaan diplomasi kaum realis(realisme).Realisme sebagai aliran penting dalam kejian diplomasi internasional,banyak mendasarkan asumsinya pada pemikiran kekuasaan Machiavelli.
• Pemikiran politik Nicollo Marchiavelli
Machiavelli sering dikemukakan sebagai seorang pemikir yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Bahkan Machiavelli seing juga dikemukakan sebagai seorang yang menganjurkan untuk mengesampingkan nilai-nilai moral tadi untuk dapat mempertahankan kemegahan dan kekuasaan. Kitabnya, Pangeran, penuh dengan nasihat-nasihat demikian, sehingga apa yang disebut Machiavellisme adalah ajaran tanpa moral tadi
Machiavelli berpendapat bahwa nilai-nilai yang tinggi, atau yang dianggap tinggi, adalah berhubungan dengan kehidupan dunia, dan ini dipersempit pula hingga kemasyhuran, kemegahan, dan kekuasan belaka. Machiavelli menolak adanya hukum alam, yang seperti telah diketahui adalah hukum yang berlaku untuk manusia sejagat dan sesuai dengan sifat hukum, mengikat serta menguasai manusia. Machiavelli menolak ini dengan mengemukakan bahwa kepatuhan pada hukum tersebut, malah juga pada hukum apapun pada umumnya bergantung pada soal-soal apakah kepatuhan ini sesuai dengan nilai-nilai kemegahan, kekuasaan, dan kemasyhuran yang baginya merupakan nilai-nilai tinggi. Bahkan menurut pendapatnya inilah kebajikan. Machiavelli mengatakan bahwa untuk suksesnya seseorang, kalau memang diperlukan, maka gejala seperti penipuan dibenarkan. Misalnya, ia mengakui bahwa agama mendidik manusia menjadi patuh, dan oleh sebab kepatuhan ini perlu untuk suksesnya seorang yang berkuasa, maka perlulah agama tadi. Jadi agama itu diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu
Tidak seperti pemikir Abad Pertengahan, Machiavelli melihat kekuasaan sebagai tujuan itu sendiri. Ia menyangkal asumsi bahwa kekuasaan adalah alat atau instrumen belaka untuk mempertahankan nilai-nilai moralitas, etika atau agama. Bagi Machiavelli segala kebajikan, agama, moralitas justru harus dijadikan alat untuk memperoleh dan memperbesar kekuasaan. Bukan sebaliknya. Jadi kekuasaan haruslah diperoleh, digunakan, dan dipertahankan semata-mata demi kekuasaan itu sendiri. Dengan pandangannya itu, Machiavelli menolak tegas doktrin Aquinas tentang gambaran penguasa yang baik. Aquinas dalam karyanya The Government of Princes berpendapat bahwa penguasa yang baik harus menghindari godaan kejayaan dan kekayaan-kekayaan duniawi agar memperoleh ganjaran syurgawi kelak. Bagi Machiavelli justru terbalik, penguasa yang baik harus berusaha mengejar kekayaan dan kejayaan karena keduanya merupakan nasib mujur yang dimiliki seorang penguasa.
Bagi Machiavelli kekuasaan adalah raison d’etre negara (state). Negara juga merupakan simbolisasi tertinggi kekuasaan politik yang sifatnya mencakup semua (all embracing) dan mutlak. Bertolak dari pandangan-pandangan Machiavelli di atas beberapa sarjana berpendapat bahwa Machiavelli memiliki obsesi terhadap negara kekuasaan (maachstaat) dimana yang kedaulatan tertinggi terletak pada kekuasaan penguasa dan bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum.
Dalam kaitannya dengan kekuasaan seorang penguasa, Machiavelli membahas perebutan kekuasaan (kerajaan). Bila seorang penguasa berhasil merebut suatu kerajaan maka ada cara memerintah dan mempertahankan negara yang baru saja direbut itu.
1. Memusnahkannya sama sekali dengan membumihanguskan negara dan membunuh seluruh keluarga penguasa lama. Tidak boleh ada yang tersisa dari keluarga penguasa lama sebab hal itu akan menimbulkan benih-benih ancaman terhadap penguasa baru suatu saat kelak.
2. Dari kedua cara itu menurut Machiavelli cara pertama adalah cara yang paling efektif meski bertentangan dengan aturan moralitas.
Dalam The Prince, Machiavelli juga menguraikan bahwa mereka yang menjadi penguasa lewat cara-cara keji, kejam, dan jahat tidaklah dapat disebut memperoleh kekuasaan berdasarkan kebajikan (virtue) dan nasib baik (fortune). Cara itu seperti dipraktekkan Agathocles yang membunuh secara biadab senator Syarcuse demi menduduki tahta kekuasaan, memang bisa menjadikan mereka penguasa negara. Tetapi kata Machiavelli penguasa itu tidak akan dihormati dan dipuja sebagai pahlawan. Apalagi setelah berkuasa ia menjadikan kekerasan, kekejaman dan perbuatan keji lainnya sebagai bagian dari kehidupan politik sehari-hari. Machiavelli menyimpulkan bahwa cara-cara itu hanya akan menjadikan sang penguasa berkuasa tetapi tidak menjadikannya terhormat, pahlawan atau orang besar.
Machiavelli menyarankan kalaupun seorang penguasa boleh melakukan kekejaman dan menggunakan “cara binatang” hendaknya dilakukan tidak terlalu sering. Setelah melakukan tindakan itu, ia harus bisa mencari simpati dan dukungan rakyatnya dan selalu berjuang demi kebahagiaan mereka. Dia juga harus berusaha agar selalu membuat rakyat tergantung kepadanya. Kearifan dan kasih sayang terhadap rakyat, kata Machiavelli , akan bisa meredam kemungkinan timbulnya pembangkangan. Penguasa yang dicintai rakyatnya tidak perlu takut terhadap pembangkangan sosial. Inilah menurut Machiavelli usaha yang paling penting yang harus dilakukan seorang penguasa.

• Relevansi Pemikiran Nicollo Marchiavelli
Pemikiran poltik Marhiaveli mempunyai peranan besar pada masa sekarang ini,teorinya tentang tirani dan penguasa yang diktator masih dapat Kita jumpai pada abad XXI ini walaupun tidak ada tokoh sekarang ini berani mngemukakan pemikiran Marchiavelli sebagai dasar dari tindakannya seperti yang pernah dilakukanoleh Louis XIV,Hitler dan Mussolini.

3. John Locke
• Alasan memilih John Locke
Karya John Locke dalam Two Treatises of Government yag terkenal dapat diseterakan dengan karya Karl Marx, Das Capital setidaknya karena satu hal:Baik karya Locke maupun Marx sama-sama telah mengilhami revolusi-revolusi Dunia.Tak mengejutkan bila Locke mempunyai posisi tersendiri dikalangan tokoh-tokoh revolusi Prancis dan Bapak pendiri (Founding Fathers) Amerika Serikat . Selain itu John Locke juga dikenal sebagai sebagai pelatak dasar Liberalisme yang merupakan subuah pahan yang juga banyak sianaut pada dewasa ini.
• Pemikiran John Locke
Berbicara mengenai kekuasaan politik untuk rakyat dalam konsep John Locke, tidak terlepas di dalamnya pembahasan mengenai hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab. Hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggungjawab memungkinkan terciptanya masyarakat yang baik.
Dalam pembahasannya tentang hak dan asal usulnya, seperti Hobbes, Locke berpaling kepada originalitas keadaan alamiah sebelum terbentuknya pemerintahan. Dikatakan bahwa “hak” lahir dari keadaan alamiah (state of nature) di mana manusia ada dalam keadaan bebas yang sempurna untuk mengatur tindakan, kepemilikan dan orang-orang yang cocok dalam ikatan hukum alam. Locke berpendapat bahwa kekuasaan politik adalah hak untuk membuat hukum. Hukum itu dibuat untuk mengatur dan melindungi property demi tercapainya kebaikan bersama. Dalam uraian ini fungsi pemerintah dilihat sangat transparan dan terbuka yaitu untuk mempertahankan komunitas demi bonum communae. Namun, yang menjadi persoalan komunitas macam mana yang mau dipertahankan. Apakah layak kita gunakan kekerasan atas nama komunitas? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan prinsip universal yaitu kemanusiaan yang dianut hampir semua Negara modern?
Hukum alam yang paling fundamental adalah melindungi hidup. Bagaimana the state of nature berkembang menjadi sebuah komunitas politik? Menurut Locke, satu-satunya jalan membentuk sebuah komunitas politik dan mendirikan sebuah pemerintahan harus ada konsistensi terhadap pengunaan intelek yang dibimbing oleh hukum alam dan oleh persetujuan bebas . Kekerasan dan penaklukan haruslah diganti dengan perjanjian dan persetujuan untuk membentuk sebuah kekuasaan politis. Dengan demikian ada perbedaan antara kekuasaan politik dan kekuasaan absolut yang cendrung menggunakan kekerasan.
Konsep Trias Politica merupakan ide pokok dalam Demokrasi Barat, yang mulai berkembang di Eropa pada abad XVII dan XVIII M. Trias Politica adalah anggapan bahwa kekuasaan negara terdiri dari tiga macam kekuasaan : pertama, kekuasaan legislatif atau membuat undang-undang; kedua, kekuasaan eksekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang; ketiga, kekuasaan yudikatif atau kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang.
Trias Politica menganggap kekuasaan-kekuasaan ini sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian diharapkan hak-hak azasi warga negara dapat lebih terjamin.
Konsep tersebut untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Filsuf Inggris John Locke mengemukakan konsep tersebut dalam bukunya Two Treatises on Civil Government (1690), yang ditulisnya sebagai kritik terhadap kekuasaan absolut raja-raja Stuart di Inggris serta untuk membenarkan Revolusi Gemilang tahun 1688 (The Glorious Revolution of 1688) yang telah dimenangkan oleh Parlemen Inggris.
Menurut Locke, kekuasaan negara harus dibagi dalam tiga kekuasaan yang terpisah satu sama lain; kekuasaan legislatif yang membuat peraturan dan undang-undang, kekuasaan eksekutif yang melaksanakan undang-undang dan di dalamnya termasuk kekuasaan mengadili, dan kekuasaan federatif yang meliputi segala tindakan untuk menjaga keamanan negara dalam hubungan dengan negara lain (dewasa ini disebut hubungan luar negeri).
Setelah menguraikan pemikiran Locke, dapat dikatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Locke adalah suatu yang baik. Hal ini saya dukung dengan argumen bahwa suatu Negara dapat berkembang kalau Negara tersebut dapat menjalankan hukum-hukumnya dengan baik. Itu berarti hukum itu sendiri sungguh-sungguh hukum yang benar dan mempunyai tujuan yang baik untuk kemakmuran rakyat. Prinsipnya bahwa hukum dibuat untuk kepentingan rakyat dan bukannya untuk melindungi penguasa. Hukum dalam suatu negara berfungsi untuk menjamin kebahagiaan rakyat.
Hukuman bagi orang yang melanggar hukun adalah suatu hal yang baik apalagi tujuannya adalah untuk keamanan semua masyarakat. Dengan hukum yang baik, suatu Negara dapat menuju tujuan yang ingin dicapai dengan baik pula. Namun satu hal yang tidak dapat saya dukung dari pemikiran Locke adalah sanksi hukuman mati kepada orang yang melakukan kesalahan. Menghukum orang dengan hukuman mati adalah suatu tindakan yang melanggar hak asasi seseorang. Yang dapat mengambil nyawa seseorang hanyalah Tuhan yang memiliki kuasa untuk hal itu.
Pada dasarnya manusia ingin hidup aman dan sejahtera. Namun semua itu tidak dapat tercapai kalau tidak ada hukum yang mengatur dengan baik. Locke berpendapat bahwa kekuasaan politik adalah hak untuk membuat hukum dengan hukuman mati dan akhibatnya semua hukuman yang lebih randah, demi mengatur dan melindungi property dan menggunakan kekerasan atas nama komunitas dalam melaksanakan hukum-hukum itu dan dalam mempertahankan harta bersama, semuanya demi kebaikan bersama. Namun itu tak berarti bahwa dengan hukum, kita dapat menghalalkan segala cara untuk dapat menghukum orang yang bersalah. Menghukum dengan hukuman mati adalah tindakan yang telah melanggar hak asasi seseorang.
Negara persemakmuran pada dasarnya adalah suatu bentuk penguasaan namun lebih mengarah pada suatu pembangunan ke depan menuju suatu masyarakat yang adil dan makmur. Dengan Negara Persemakmuran Locke bermaksud bukan pada suatu demokrasi, atau bentuk pemerintahan apapun, melainkan masyarakat mandiri.

• Relevansi pemikiran John Locke
Pemikiran John Loke tentang Triaspolitika masih sering kita jumpai dibeberapa Negara.Walaupun pemikiran tersebut mendapat modifikasi oleh Montesque tetapi pada ide dasarnya adalah sama.Pembagian kekuasaan pada Negara masih banyak dianut oleh Negara seperti Indonesia,Prancis,Amerika.
Pemikiran tentang Liberalisme yang merupakan buah pemikiranya membuat perubahan sesuatu yang berarti di dunia.Sebagai Ideologi yang berpengaruh, Liberalisme memberikan sumbangsi yang sangat penting karena banyak kebijakan yang mendapat pengaruh dunia dan Liberalisme lah yang membuktikan kekuatannya setelah berhasil atas Komunis setelah jatuhnya Russia pada tahun 1989.

4. Thomas Hobbes
• Alasan memilih Thomas Hobbes
Thomas Hobbes dalam pemikirannya adalah salah satu yang memberikan sumbangan kepada system pemerintahan pada masa sekarang.Ketaatan akan mereka yang berkuasa seperti yang tekankan oleh John Locke membuat kita sadar pentingnya perwakilan dalam memerintah dan tunduk padanya
• Pemikiran Thomas Hobbes
Pemikiran Hobbes yang membuat di terkenal adalah Leviathan atau commenwelth Pemikiran Hobbes yang penting adalah mengenai social contract (perjanjian bersama, perjanjian masyarakat, kontrak sosial). Perjanjian ini mengakibatkan manusia-manusia bersangkutan menyerahkan segenap kekuatan dan kekuasaannya masing-masing kepada seseorang atau pada suatu majelis. Gerombolan orang yang berjanji itu pun menjadi satu dan ini bernama Commonwealth atau Civitas. Pihak yang memperoleh kekuasaan itu mewakili mereka yang telah berjanji. Jadi menurut Hobbes, isi perjanjian bersama itu mengandung dua segi: pertama, perjanjian antara sesama sekutu, sehingga tercipta sebuah persekutuan, dan kedua, perjanjian meneyerahkan hak dan kekuasaan masing-masing kepada seseorang atau majelis secara mutlak. Menurutnya, penguasa dapat mempergunakan segala cara termasuk kekerasan untuk menjaga ketentraman yang dikehendaki di awal. Walaupun Hobbes mengatakan bahwa penguasa dapat berupa majelis, tetapi ia lebih suka melihatnya berada di tangan satu orang karena seseorang akan dapat berpegang terus pada satu kebijakan dan tidak berubah-ubah karena banyaknya pemikiran seperti dalam majelis. Walaupun menurutnya kekuasan bersifat mutlak, tetapi ada beberapa hal yang membolehkan rakyat untuk menentangnya.

Civil society sudah menjadi mantra baru dalam konstelasi politik kontemporer. Tak dimungkiri ramifikasi gagasan civil society sudah sedemikian luas, dari aras liberalisme yang di cetuskan oleh Hobbes .Hobbes menggambarkan kondsi pra-sosial atau keadaan alamiah yang diliputi ketidakpastian. Khususnya Hobbes, keadaan alamiah adalah perang sehingga terkenallah ungkapannya, ‘perang semua melawan semua.’ Ia menggambarkan keadaan alamiah di mana manusia secara ekstrem individual mutlak dan hidupnya diliputi konflik. Ini menandai keretakan atau diskontinuitas dengan keyakinan nilai moral tradisional, yakni relativisme moral dan pengedepanan nilai-nilai pasar. Kedaulatan mutlak individu dan etika yang didasarkan pada kepentingan diri membutuhkan bangunan Negara yang kuat untuk menjamin keamanan, kepastian relatif, dan kemungkinan antisipasi bagi hadirnya civil society. Pergeseran dari kondisi alamiah menuju civil society ini dicapai melalui tegaknya “Leviathan” atau “mortal God” yang bernama Negara. Bagi Hobbes fungsi normal civil society – produksi dan pemerolehan property baik akumulasi modal aupun ekspansi pasar, budaya, seni, dan hal-hal umum yang dibutuhkan dalam kehidupan – tergantung pada Negara yang kuat. Artinya negaralah yang membuat eksistensi civil society menjadi mungkin.Hobbes memandang Negara mengungguli civil society dan prasyarat terbentuknya civil society adalah Negara

Hobbes juga berpendapat bahwa nilai itu bersifat subjektif.Yang baik dan yang buruk semata-mata bergantung pada pendapat masing-masing.Oleh sebab itu baik buruk itu adalah pula soal pribadiDisamping itu ia juga mengugkapkan bahwa adalah menjadi fitrah manusia untuk berselisih,bertengkar dan cekcok sesamany.

• Relevansi Permikiran Thomas Hobbes.

Pemikirannya tentang Perjanjian memberikan masukan bagi system pemerintahan sekarang.dengan dibentuknya majelis perwakilan atau parlemen.Tetapi pemikirannya tentang kepatuhan kepada majelis secara mutlak membuat system itu dapat berjalan dengan baik seperti yang telah dilakukan banyak Negara di dunia.

 

5. Friedrich Hegel
• Alasan memilih Pemikiran Hegel
Pimikiran Hegel yang sagat mempengaruhi dunia modern menjadi tolak ukur kenapa dia menjadi penting untuk di ulas.Dia adalah seorang guru besar filsafat di Universitas terkemuka di jerman.Bahkan Pemikir sekelas Marx sangat mengaguminya pada masa mudanya walaupn pada akhirnya mereka dalam beberapa pemikiran bertentangan pula

• Pemikiran Hegel
Pemikiran Hegel tidak bisa dilepaskan dalam dialektika antara tesis, antitesis dan sintesis. Dalam bukunya Philosphy of Right, negara dan masyarakat sipil ditempatkan dalam kerangka dialektika itu yaitu keluarga sebagai tesis, masyarakat sipil sebagai antitesis dan negara sebagai sintesis.
Dialektika itu bertolak dari pemikiran Hegel bahwa keluarga merupakan tahap pertama akan adanya kehendak obyektif. Kehendak obyektif dalam keluarga itu terjadi karena cinta berhasil mempersatukan kehendak. Konsekuensinya, barang atau harta benda yang semula milik dari masing-masing individu menjadi milik bersama. Akan tetapi, keluarga mengandung antitesis yaitu ketika individu-individu (anak-anak) dalam keluarga telah tumbuh dewasa, mereka mulai meninggalkan keluarga dan masuk dalam kelompok individu-individu yang lebih luas yang disebut dengan masyarakat sipil (Civil Society). Individu-individu dalam masyarakat sipil ini mencari penghidupannya sendiri-sendiri dan mengejar tujuan hidupnya sendiri-sendiri. Negara sebagai institusi tertinggi mempersatukan keluarga yang bersifat obyektif dan masyarakat sipil yang bersifat subyektif atau partikular.
Meskipun logika pemikiran Hegel nampak bersifat linear, namun Hegel tidak memaksudkannya demikian. Hegel memaksudkannya dalam kerangka dialektika antara tesis, antitesis dan sintesis. Dalam kerangka teori dialektikanya ini, Hegel menempatkan masyarakat sipil di antara keluarga dan negara. Dengan kata lain, masyarakat sipil terpisah dari keluarga dan dari negara.
Masyarakat sipil bagi Hegel digambarkan sebagai masyarakat pasca Revolusi Perancis yaitu masyarakat yang telah diwarnai dengan kebebasan, terbebas dari belenggu feodalisme. Dalam penggambaran Hegel ini, Civil Society adalah sebuah bentuk masyarakat dimana orang-orang di dalamnya bisa memilih hidup apa saja yang mereka suka dan memenuhi keinginan mereka sejauh mereka mampu. Negara tidak memaksakan jenis kehidupan tertentu kepada anggota Civil Society seperti yang terjadi dalam masyarakat feodal karena negara dan civil society terpisahkan.
Negara merupakan badan universal dimana keluarga dan masyarakat sipil dipersatukan. Sebagai badan universal, negara mencerminkan kehendak dari kehendak partikular rakyatnya. Keuniversalan kehendak negara sebenarnya telah ada secara implisit dalam kehendak individu masyarakat sipil yaitu ketika mereka mengejar pemenuhan kebutuhan pribadi sekaligus juga memenuhi kebutuhan individu-individu lain dalam masyarakat sipil. Negara mempersatukan segala tuntutan dan harapan sosial masyarakat sipil dan keluarga.
Dalam kedudukannya yang tertinggi, negara mengatur sistem kebutuhan masyarakat sipil dan keluarga dengan memberikan jaminan stabilitas hak milik pribadi, kelas-kelas sosial dan pembagian kerja. Pengaturan negara itu dilakukan melalui hukum. Melalui hukum itu, negara berfungsi untuk memperkembangkan agregat tindakan rasional sebab pembatasan yang dilakukan oleh hukum negara merupakan pembatasan rasional yang diperlukan bagi keberadaan individu-individu lainnya. Kebebasan individu ditentukan oleh rasionalitas manusia. Hukum negara menjadi instrumen untuk mengingatkan manusia agar tidak bertindak irrasional..
• Relevansi Pemikiran Hegel
Pemikiran Hegel pada dewasa ini masih terlihat dalam bentuk Negara ideal yang di Indinkannya yaitu Monarki Absolute yang masih dipakai oleh beberapa Negara seperti Inggris ,Jerman ,Belanda dan masih bayak lagi.Dan pemikirannya yang banyak mempengaruhi pemikir politik juga secara tidak langsung menjadai bukti bahwa pemikirannya masih sangat diperlukan pada masa sekarang.

6. Karl Marx & Federich Engels
• Alasan memilih Marx dan Engels
Pemikiran mereka terutama Marx adalah pemikiran yang paling berpengarh pada sekarang ini.bahkan banyak sekali paham yang berkembang karena pemikiran mereka,seperti komunis yang dikemukakan oleh Stalin adalah salah satunya.Pemikiran mereka juga adalah salah satu pemikiran yang mampu membendung pemikiran liberalisme pada dewasa ini dan memiliki basis masa yang cukup masa yang menganut paham ini.walaupun paham ini sempat mendapat pertentangan dari berbagai Negara.Selain itu pemikirannya pada Das Kapitalis mengukir sejarh juga karena menjadi pelopor berberapa refolusi hebat didunia seperti Kuba.
• Pemikiran Marx dan Engels
Karya bersama Marx dan Engels yang pertama adalah buku yang berjudul The Holy Family (Keluarga Suci), sebuah karya yang penuh polemik (perdebatan), yang ditujukan pada beberapa orang Hegelian Muda yang radikal dalam omongan, namun idealis dan tidak politis, yaitu Bruno dan Edgar Bauer, serta Max Stirner. Ini sungguh merupakan karya peralihan antara tulisan-tulisan Marx terdahulu dan teori materialisme historis, dan mengandung tanda-tanda bahwa buku ini ditulis untuk diterbitkan secara terburu-buru. Segera setelah menyelesaikan the Holy Family, Marx pindah ke Brussels, dan keduanya memulai masa-masa studi intensif, dan berangkat bersama ke Inggris untuk melakukan riset lebih lanjut tentang ekonomi politik. Buah dari kerja mereka adalah dua jilid The German Ideology, yang ditulis pada tahun 1845-1846, namun baru diterbitkan pada tahun 1932 setelah keduanya wafat
Marx membuka the German Ideology dengan mengritik para filsuf Hegelian Muda yang hanya berusaha untuk mempengaruhi perubahan dan kesadaran, yaitu `menafsirkan kenyataan dengan berbagai cara’Filsafat Hegelian Muda, yang mulai dengan kritik terhadap agama, telah mengritik konsepsi-konsepsi dominan metafisik, politik, hukum dan moral dengan mengungkapkan basis religius mereka, namun filsafat Hegelian Muda ini lupa bahwa ini hanyalah memindahkan satu istilah menjadi istilah yang lain, bukannya memerangi dunia yang nyata ada. Dalam hal ini, the Deutsche-Französische Jahrbücher tentu lebih sedikit kesalahannya dibandingkan para kritikus yang kritis, Bruno dan Edgar Bauer, yang diserang Marx dalam The Holy Family. Marx kemudian meneruskan kritiknya dengan mengritik pernyataan Feuerbach yang menyamakan komunisme dengan humanisme, yang dengan demikian, juga mengritik akibat-akibat dari posisi yang diambil Marx sendiri dalam the Economic and Philosopical Manuscripts. `Keseluruhan kesimpulan yang ditarik oleh Feuerbach … hanyalah sejauh membuktikan bahwa manusia membutuhkan, dan telah selalu membutuhkan satu sama lain’, sedangkan kaum komunis `dalam dunia yang nyata berarti pengikut sebuah partai revolusioner tertentu’.
Marx membangun pembedaan antara komunisme filosofis dan komunisme `nyata’ pada sebuah sketsa umum perkembangan historis yang menempatkan komunisme sebagai sebuah `partai revousioner tertentu’, bukan dalam dunia ide melainkan sebagai hasil yang niscaya dalam sebuah kondisi sosial tertentu. Dari skema inilah muncul kemudian konsep-konsep dasar tentang materialisme historis. Marx menyajikan penafsirannya tentang sejarah dengan sangat berbeda dari apa yang disajikan oleh filsafat Jerman dalam hal sejarah bergerak maju “dari bumi menuju surga “bukannya sebaliknya. Adalah dalam proses di mana manusia memproduksi alat material untuk penghidupannya, bagaimana mereka “bekerja di bawah pembatasan-pembatasan syarat-syarat dan kondisi-kondisi material tertentu yang tidak tergantung dari kehendak bebas mereka”, itulah yang menentukan `pembentukan ide-ide, pandangan dan kesadaran”. `Moralitas, agama, metafisika, dan semua ideologi yang lain dengan demikian tak lagi dapat mempertahankan tampilan kemandiriannya.
Setiap pembagian kerja membentuk sejumlah kelas-kelas sosial, yang saling bertentangan sejak pertama kali kepemilikan pribadi berkembang, yang melibatkan sekaligus mengakibatkan `distribusi yang tidak merata baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dalam hal kerja dan produk-produknya’. Kepemilikan atas alat produksi memberikan kemampuan pada suatu kelas untuk mendominasi kelas yang lain, dan negara politis menjadi perlu untuk menengahi konflik-konflik yang menyusulnya. `Semua pergulatan di dalam negara, pergulatan antara demokrasi, aristokrasi dan monarki, perjuangan untuk memperoleh hak pilih dan lain-lain, hanyalah bentuk-bentuk semu di mana perjuangan yang sesungguhnya antar kelas-kelas yang berbeda dilancarkan … Setiap kelas yang sedang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan … haruslah pertama-tama merebut kendali atas kekuasan politik bagi dirinya agar dapat ganti menyajikan kepentingannya sebagai kepentingan umum. Aturan dari kelas yang dominan selalu disahkan secara ideologis, karena `kelas yang memiliki alat produksi material di tangannya, juga memegang kendali atas alat produksi mental’, dan ide-ide penguasa tak lain adalah perwujudan hubungan-hubungan material yang dominan dalam ide-ide … hubungan-hubungan yang membuat satu kelas menjadi kelas berkuasa.
Singkatnya, syarat-syarat material bagi komunisme adalah hal yang membangkitkan kesadaran komunis, yang akan mengakibatkan satu tranformasi sosial. `Bagi kami komunisme bukanlah suatu state of affairs [keadaan yang menentukan berlangsungnya peristiwa-peristiwa, pen.] yang harus dibangun, suatu hal yang ideal, di mana kemudian realitas harus menyesuaikan diri terhadapnya. Kami menyebut komunisme sebagai gerakan yang nyata, yang akan menghapuskan berbagai keadaan yang sekarang ada’.

• Relevensi pemikiran Marx dan Engels
Pemikiran mereka sangat berpengaruh hingga saat ini .dari pemikiran mereka ini banyak diadopsi menjadi sebuah Ideologi pada suatu Negara,bahkan menjadi tameng yang cukup ampuh untuk melawan ideologi Liberalisme.Pemikirannya masih banyak dipakai oleh para kaum buruh dibanyak Negara .

Analisis Ideologi sebagai
• Konsep Pengetahuan
Dalam konsep pengetahuan, Ideologi memerankan peranan penting karena dengan perannya ideologi banyak memempengruhi Pengetahuan dan terkadangang memberikan kebuntuan berpikir tentang suatu hal.Sebagai contoh tentang pengaruh Ideologi terhadap pengetahuan adalah Teory Evolusi yang di cetuskan oleh Darwin.Teori ini merupakan suatu bentuk pengaruh ideologi materialisme terhadap pengetahuan. Materalisme mencoba membuktikan bahwa keberadaan alam semesta ini merupakan berasal dari sebuah material atau benda dan hal ini juga sekaligus menolak kepercayaan tentang Tuhan.

• Konsep Ide
Pada hakikatnya ideologi adalah ide tetapi ideologi merupakan ide dasar dan ide dalam bentuk yang lain berada di atas Ideologi,sehingga dalam setiap ide yang berkembang selanjutnya ideologi merupakan nilai dasar.Sebagai nilai dasar itu ideologi mencoba menjadi krangka berpikir setiap ide tersebut.Hal konteks ini ideologi sangat mempengaruhi dalam pemikiran pengetahuan dan social budaya.Setiap ide yang mmuncul dalam pikiran manusia ini akan saling berkaitan dengan Ideologi sebagai wadah dari semuanya itu.

• Konsep Pembenaran terhadap Realita
Ideologi sering kali menjadi pembenaran terhadap realita yang terjadi dalam masyarakat.Ideologi yang menjadi falsafah hidup suatu Negara sering kali disalah artikan dan dicoba di selewengkan.Negara liberalisme cenderung memperbolehkan persaingan yang tidak sehat dalam memperoleh keuntungan dan kekayaan pribadi .Hal itu merupakan sesuatu yang wajar karena tidak bertentangan dengan Ideologi yang dianut pada masyarakat tersebut,walaupun dalam konteks agama hal itu tidak dapat dibenarkan.Pembenaran inilah yang terkadang menjadi perdebatan yang tidak pernah habis dalam masyarakat .

• Konsep Politik
Dalam dunia poltik Ideologi sangat memainkan peranan penting karena inilah ranah ideologi sebenarnya.Dalam politik dasar dari segala kebijakan berawal dari Ideologi apa yang dipakai atau dianut oleh penguasa tersebut.Seperti Contoh tentang bentuk pemerintahan yang dipakai dalam Negara Cina.Negara Cina yang menganut ideologi komunis akan selalu menerapkan kebijakan yang selalu berdasarkan pada sendi-sendi ajaran komunis. Dan setiap kebijakan juga akan bersumber dari ideologi karena merupakan dari sumber dari segala hukum .

• Konsep Ekonomi
Dalam ekonomi pengaruh ideologi enjadi sangat penting dan penuh dengan kepentingan.Dalam Negara yang menganut ideologi Liberal contohnya kepentingan ekonominya akan sangat berpihak pada golongan pemilik modal sehingga dalam kebijakannya ekonomi akan selalu untuk bagaimana mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya demi kesejahterahan dan kekayaan pribadi.Berbeda dengan halnya Negara yang menganut paham sosialis yang mementingkan pemerataan pada kesejahterahaan masyarakat luas.Ideologi yang mempengaruhi inilah yang sering menimbulkan perbedaan antara Negara maju dan Negara berkembang dalam menjalankan kebijakan ekonominya.

• Konsep Agama
Dalam hal keterkaitannya dengan agama sebenarnya ideologi sangat bersebrangan karena sumber keduanya berbeda.Agama yang bersumber dari wahyu Tuhan dan disatu sisi Ideologi yang berasal dari pikiran manusia.Tetapi pada perkembangannya hal itu dapat bersatu karena penerapan suatu agama yang menjadi ideologi.Hal ini banyak dipakai dalam Negara-negara islam dan tentu saja berbasiskan syariat dan Al-Quran sebagai dasarnya.Penerapan agama sebagai ideologi adalah sebuah hal yang menarik karena dalam kebijakannya sangat bertumpu pada ajaran agama sehingga terdapat satu paremater dalam masyarakat yaitu agama karena semua bersumber dari hal itu.tidak seperti halnya ketika agama dan Ideologi dalam sisi yang berlainan.

• Konsep Sosial & Budaya
Dalam konsep social dan budaya,Ideologi sangat mempengaruhi karena berkaian erat dengan penjabaran ideologi terhadap konsep yang lainnya seperti penjabaran diatas.setelah politik,ekonomi,ide bahkan agama telah terpengaruh oleh ideologi maka barulah social dan budaya terpengaruh karena semua factor diatas.kehidupan social dalam masyarakat sangat terpengaruh oleh system ekonominya dan politiknya.Sebagai Negara yang liberalisme kehidupan social di sana berbeda seperti contoh rasial yang masih nyata disana.Dan tentu saja dari kehidupan sosialnya akan muncul budaya yang sejalan juga dengan kehidupan social masyarakat sebagai aksi dari sistemyang berlaku disana.

7. Aristoteles

Pemikiran

Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.

Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam.

Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis).Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking.]

Hal lain dalam kerangka berpikir yang menjadi sumbangan penting Aristoteles adalah silogisme yang dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru yang tepat dari dua kebenaran yang telah ada.Misalkan ada dua pernyataan (premis):

  • Setiap manusia pasti akan mati (premis mayor).
  • Sokrates adalah manusia (premis minor)
  • maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sokrates pasti akan mati

Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki.

Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.

Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan.Menurut Aristoteles keindahan menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material.Menurut Aristoteles sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis disertai dengan estetika.Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang dicurahkan ke luar.Kumpulan perasaan itu disertai dorongan normatif. Dorongan normatif yang dimaksud adalah dorongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada perasaan tersebut.Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan aristoteles juga mendefinisikan pengertian sejarah yaitu Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.

Pengaruh

Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense explanation), banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun lamanya.Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut karena dianggap masuk akal dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut salah total karena didasarkan pada asumsi-asumsi yang keliru.

Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau “the master of those who know“, sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.

TEORI ILMU POLITIK

1.Miriam Budiarjo

Menurut Miriam Budiarjo politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politik atau Negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan system itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari system politik itu menyangkut seleksi antara beberapa alternative dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih itu. Untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu tentu diperlukan kebijakan-kebijakan umum yang menyangkut pengaturan dan atau alokasi dari sumber-sumber resources yang ada. Untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan dan kewenangan, yang akan dipakai baik untuk membina kerja sama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses ini. Cara-cara yang dipakainya dapat bersifat paksaan. Tanpa unsure paksaan kebijakan ini hanya merupakan perumusan keinginan belaka. Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat, bukan tujuan pribadi seorang. Selain itu politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok termasuk partai politik dan kegiatan individu. ((Miriam Budiarjo; Dasar-Dasar Ilmu Politik, dalam buku suntingan Toni Adrianus Pito, Kemal Fasyah, dan Efriza; Mengenal Teori-teori Politik, Cetakan Pertama, Depok, 2005, hal 8)

2. Inu Kencana Syafiie

Menurut Inu Kencana Syafiie, politik dalam bahasa Arabnya disebut “siyasyah” atau dalam bahasa Inggris “politics”. Politik itu sendiri berarti cerdik dan bijaksana. Pada dasarnya politik mempunyai ruang lingkup Negara, membicarakan politik galibnya adalah membicarakan Negara, karena teori politik menyelidiki Negara sebagai lembaga politik yang mempengaruhi hidup masyarakat, jadi Negara dalam keadaan bergerak. Selain itu politik juga menyelidiki ide-ide, asas-asas, sejarah pembentukan Negara, hakekat Negara, serta bentuk dan tujuan Negara, disamping menyelidiki hal-hal seperti kelompok penekan, kelompok kepentingan, elit politik, pendapat umum, peranan partai, dan pemilihan umum. (Inu Kencana Syafiie; ilmu politik, dalam buku suntingan Toni Adrianus Pito, Kemal Fasyah, dan Efriza; Mengenal Teori-teori Politik, Cetakan Pertama, Depok, 2005, hal 7)

 

3.  Arifin Rahman

Menurut Arifin Rahman kata politik berasal dari bahasa Yunani “polis” adalah kota yang berstatus Negara/Negara kota….segala aktivitas yang dijalankan oleh polis untuk kelestarian dan perkembangannya disebut “politike techne”. Kemudian ia juga berpendapat politik ialah pengertian dan kemahiran untuk mencukupi dan menyelenggarakan keperluan maupun kepentingan bangsa dan Negara. (Arifin Rahman; Sistem Politik Indonesia dalam Perspektif Fungsional, dalam buku suntingan Toni Adrianus Pito, Kemal Fasyah, dan Efriza; Mengenal Teori-teori Politik, Cetakan Pertama, Depok, 2005, hal 7)

4. Ramlan Subakti

a. Pendekatan Kekuasaan

Menurut pendekatan ini, yang dimaksud politik adalah cara-cara untuk memperoleh dan mempertahankan kekausaan. Dalam pendekatan ini perspektif politik merupakan sesuatu yang kotor, karena usaha untuk memperoleh atau mempertahankan kekausaan dilakukan dengan car-cara yang tidak legal dan amoral. Misalnay dengan memanipulasi, sikut-sikutan atau kalau perlu menendang lawan dan menghilankan nyawa lawan politik. Para politisi dalam pndekatan ini sering digambarkan dengan politik kodok atau bunglon.

b. Pendekatan Institusional

Menurut pendekatan ini, politik adalah negara dengan institusi-institusinya. Jadi yag dipelajari tentang politik adalah mengenai tugas dan kewenangan atau apa yang harus dilakukan oleh lembaga-lembaga negara.

c. Pendekatan moral

Pendekatan ini memandang politik adalah sesuatu yang mulia, karena politik merupakan kegiatan untuk mendiskusikan dan merumuskan “good society” atau “the best regime”. Misalnya dengan kegiatan ini kemudian muncul pemikiran tentang pemerintah yang bersih dan melayani publik.

d. Pendekatan Konflik

Menurut pendekatan ini politik adlah kegiatan untuk memperoleh dan mempertahankan kepentingan. Konflik yang dimaksud disini mencakup semua pertentangan yang menyangkut upaya mencari dan mempertahankan kepentingan.

e. Pendekatan fungsional

Politik adalah kegiatan yang menyangkut alokasi nilai-nilai kepentingan yang diumuskan dalam kebijaksanaan publik. Oleh karena itu, politik dapat dinyatakan menyangkut pembahasan menyangkut siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana, sebagaimana hal ini dirumuskan dalam kebijakan politik.

f. Pendekatan Analisis Wacana Politik

Politik adalah kegiatan mendiskusikan atau mendefinisikan situasi dari suatu fenomena politik, tetapi ada pula yang mendefinisikan sebagai hak prerogatif, juga mencul definisi sebagai upaya konsolidasi kekuatan dengan mengangkat orang-orangnya sendiri yang pada dasarnya melakukan KKN. Jadi menurut pendekatan ini politik merupakan kompetisi definisi situasi. Definisi yang akan muncul sebagai pemenang adalahyang mampu menjadi opini publik, dan menjadi isu pollitik yang pada akhirynyadapat menjadi agenda pembahasan para pembuat keputusan dan menjadi kebijakan politik. (Cholisin, dkk : Dasar-Dasar Ilmu Politik. UNY Press)

5.  W.A Robson

Pengambilan keputusan politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum dan dikatakan selanjutnya bahwa keputusan yang dimaksud adalah keputusan mengenai tindakan umum atau nilai-nilai (public goods)yaitu mengenai apa yang dilakukan dan siapa mendapat apa.Dari pengertian ini sudah jelas bahwa kita memang memiliki hak sendiri dalam menyalurkan aspirasi kita.Tidak ada yang dapat melarang kita untuk berpendapat.

Konferensi meja bundar anatar belanda dan indonesia di Den Haag, Belanda merupkanan salah satu contoh musyawarah di dunia politik

Lalu bagaimana dengan partispasi masyarakat saat ini terhadap bidang politik apakah sudah berjalan dengan lancar?Masih dapatkah kita temui orang yang memiliki andil besar dan memiliki gairah di dunia politik?
Ilmu politik menurut W.A Robson, dalam The University Teaching of Social Sciencesmengatakan bahwa

Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat. yaitu sifat hakiki , dasar , proses-proses , ruang lingkup dan hasil-hasil.Fokus perhatiannya tertuju pada perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan ,melaksanakan kekuasaan tau pengaruh atas orang lain atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu

.Ilmu politik juga berkaitan dengan masalah kekuasaan ,kepemimpinan seseorang yang memiliki pengaruh terhadap jalannya kehidupan politik disebuah negara.Bagaimana pemimpin itu memimpin akan mempengaruhi bagaimana masyarakatnya bertindak dan berlaku.

Tidak semua orang akan dengan mudahnya memberikan pendapatnya , bersuara juga merupakan hal vital yang tidak semua orang dapat lakukan.Ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan hal yang sering dijumpai oleh kita sebagai manusia,kita juga takut salah dalam berpendapat ,takut nantinya akan ada pembicaraan dibelakang kita dan membuat diri kita menjadi tidak nyaman di tengah-tengah kelompok.Karena itu kebanyakan dari kita memilih opsi diam saja yang disinyalir bahwa diam adalah mencari keamanan tanpa melakukan apa-apa tetapi hal negatifnya adalah masalah dapat saja tidak terpecahkan secara baik karena masih ada yang belum menyalurkan aspirasinya.Partisi politik sendiri dari buku dasar-dasar ilmu politik adalah kegiatan warga yang bertindak sebagai pribadi-pribadi yang dimaksudkan untuk memengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah . Partisipasi dapat bersifat individual atau kolektif ,terorganisir atau spontan , mantap atau sporadis , secara damai atau dengan kekerasan legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif.

6.  Adolf Grabowsky
Ilmu politik adalah menyelidiki negara dalam keadaan bergerak.
Golongan pendefinisian institusional ini mempelajari lembaga-lembaga politik dengan negara sebagai pusat pembahasannya. Pembahasan dimulai dengan asal mula negara, hakikat negara, sejarah dan tujuan, serta bentuk-bentuk negara sampai dengan penyusunan deduksi-deduksi tentang pertumbuhan dan perkembangan negara.

7. R.N. Gilchrist; dan Lasswell
Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh dan kekuasaan, serta ilmu yang mengkaji teori dan fakta tentang akumulai kekuasaan. bagaimana sebuah rezim memperoleh kekuasaan, mengelola dan mempertahankan kekuasaan tersebut dari rezim lain yang

 

 

Nasdem, Partai Pendatang Baru Namun Langsung Mencuat

 

Dari kiri ke kanan: Idrus Marham, Saan Mustofa, Yunarto Wijaya dan Ferry Mursyidan Baldan. (Jaringnews/Novel Martinus)

Bahkan mengalahkan partai-partai menengah yang berada di parlemen saat ini.

JAKARTA, Jaringnews.com – Charta Politika merilis hasil survei tentang elektabilitas partai politik, Kamis (30/8) hari ini. Yang menarik dalam rilis tersebut, Nasional Demokrat (Nasdem), yang notabene partai baru, elektabilitasnya berada di peringkat kelima mengalahkan partai-partai menengah yang berada di parlemen saat ini.

“Yang menarik, partai baru yang langsung menempati posisi kelima, yakni Partai Nasdem dengan elektabilitas 4,3 persen,” ujar Direktur Riset Charta Politika Yunarto Wijaya dalam pemaparan hasil survei lembaganya yang bertajuk ‘Stagnasi Perilaku Pemilih: Fenomena Partai Politik Mati Suri’ di Restoran Pantai Mutiara, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (30/8).

Yunarto memaparkan, tercatat tingkat elektabilitas Partai Golkar berada di posisi paling atas mengungguli Partai Demokrat dan disusul diurutan ketiga oleh PDI Perjuangan.

Dalam rilis survei itu, Golkar memperoleh angka elektabilitas 18,0 persen, Demokrat 12,5 persen, PDI Perjuangan 10,8 persen, Gerindra 4,7 persen, Nasdem 4,3 persen, PKS 3,9 persen, PPP 2,7 persen, PKB 2,6 persen, PAN 1,9 persen, Hanura 1,6 persen, dan lain-lainnya 2,7 persen.

Terkait hal ini, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Nasdem Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, hasil itu tidak akan membuat partainya jumawa. “Itu hanya untuk menginformasikan atas kerja-kerja selama ini. Tidak perlu menjadi sesuatu yang mengurangi tensi kerja kita,” ujar Ferry yang hadir di acara ini.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustofa mengatakan, elektabilitas partainya akan kembali menguat seiring dengan perbaikan dan pertumbuhan ekonomi yang dipimpin oleh pemerintahan SBY-Boediono.

“Elektabilisas yang fluktuasi dan naik turun itu biasa, Pelan-pelan tapi pasti tingkat kepuasan rakyat terhadap pemerintahan SBY-Boediono akan membaik untuk mendongkrak elektabilitas partai Demokrat ke depan,” kata dia.

Tidak ketinggalan memberikan tanggapan, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dalam kesempatan yang sama mengatakan, hasil survei secara tidak langsung menunjukkan bahwa sistem Partai Golkar berjalan dengan baik, khususnya pembinaan kader. Kata dia, pembinaan ini dilakukan Partai Golkar agar menjadikan kader partainya lebih berkualitas dan dapat diterima oleh masyarakat dan mempertahankan pemilih tradisional yang sudah dipunyai oleh Partai Golkar.

“Karena memang kami selalu menjaga pemilih yang sudah ada di tangan,” ujar Idrus.

Sekedar diketahui, Survei itu dilakukan mulai 8 hingga 22 Juli 2012 dari 2.000 responden yang telah memiliki hak pilih dari seluruh wilayah Indonesia dengan sistem sampling acak. Margin error sebesar 2,19 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: