Skolastika Meitrisya 125120500111025

KONSEP DAN TEORI POLITIK

Skolastika Meitrisya Aprodite

A Pol 1 / 125120500111025

Konsep Politik

1.   Konsep Klasik

      Dalam pandangan klasik yang dipelopori oleh Aristoteles, politik diungkapkan sebagai asosiasi warga negara yang berfungsi membicarakan dan menyelenggarakan hal ihwal yang menyangkut kebaikan bersama seluruh masyarakat. Kebaikan bersama dapat berupa nilai – nilai ideal yang bersifat abstrak seperti keadilan, kebersamaan, dan kekeluargaan.

      Dalam pandangan klasik kepentingan dan kepentingan individu / swasta dibedakan. Kepentingan umum lebih menekankan aspek moral demi kepentingan bersama. Metode yang digunakan bersifat spekulatif normative sehingga tidak menjelaskan dan tidak menjabarkan politik secara lebih rinci karena hanya menekankan aspek filosofis (ide dan etika ) daripada politik sehingga tidak membumi dan kurang melihat realitas.

2. Konsep Kelembagaan

      Politik dalam definisi konsep kelembagaan melihat dari dan berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Tokoh yang mengungkapan konsep ini adalah Max Webber. Ia menyatakan bahwa negara adalah institusi tertinggi untuk melakukan monopoli terhadap warga negaranya serta sumber daya alam yang ada.

3. Konsep Kekuasaan

      Dalam konsep kekuasaan, politik diefinisikan sebagai sarana mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat, sedangkan ilmu politik didefinisikan sebagai ilmu yang mempeajari hakikat, kedudukan, dan penggunaan kekuasaan.

     Seorang  ahli politik yang menganut konsep ini adalah Robson. Ia mendefinisikan ilmu politik sebagai ilmu yang memusatkan perhatian pada perjuangan untuk dapat mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan, mempengaruhi pihak lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan. Sedangkan kekuasaan didefinisikan sebagai kemampua mempegaruhi orang lain untuk berpikir, rperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi.

4.  Fungsionalisme

     Menurut konsep fungsionalisme, politik diidentikan sebagai kegiatan merumuskan dan melaksanakan kebijakan umum yang berguna bagi kepentingan masyarakat. Tokoh politik yang menganut konsep ini adalah David Easton dan Harold Laswall.

     David Easton merumuskan politik adalah alokasi nilai – nilai secara otoritatif berdasarkan kewenangan yang mengikat suatu masyarakat, Sedangkan perilaku politik adalah kegiatan mempengaruhi proses pembagian dan penjatahan nilai – nilai dalam masyarakat. Harold Laswell menilai bahwa proses politik adalah masalah siapa, apa, kapan dan bagaimana. Apa berarti mendapat nila-nilai. Kapan berarti ukuran pengaruh yang digunakan untuk menentukan siapa yang mendapat nilai terbanyak. Bagaimana berarti cara mendapatkan nilai tesebut..

     Dalam hal ini, nilai – nilai dilihat sebagai hal yang diinginkan, yang dikejar, dengan derajat kedalaman upaya yang berbeda untuk mencapainya. Nilai tersebut bersifat abstrak dan kongkret, yaitu yang bersifat ideal spiritual, dan material jasmaniah.

5. Konsep Konflik

     Dari konsep konflik, definisi politik adalah mempengaruhi proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum sebagai upaya untuk mendapatkan dan atau mempertahankan nilai – nilai. Dalam upaya itu sering terjadi perbedaan pendapat, perdebatan, pertentangan, bahkan pertengkaran secara fisik. Di kehidupan politik selalu ada konflik sebab konflik merupakan gejala yang serba hadir dalam masyarakat majemuk termasuk proses politik.

Teori Politik dan Ilmu Politik menurut beberapa ahli

  1. 1.      Menurut Robert L Cord, James A Medeiros, dan Watter S Jones dalam buku The Politics Science.

Politics is a human interaction involved in the authoritative allocation of value for society.

Politic science studied the political system, and all of the processes and activities that result in authoritative decisions for the allocation of values in the society it involve people deciding, how to distribute material goods and service, or even symbolic values, and it includes the procedures and power plays involved in reahing those decision.  

  1. 2.      Andrew Heyhood

Politik adalah kegiatan suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan dan mengamandemen peraturan – peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak terlepas dari gejala konflik dan kerjasama.

  1. 3.      Ramlan Surbakti

Politik adalah interaksi antara negara dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat bagi kebaikan bersama masyarakatnya yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

  1. 4.      Aristoteles

Berdasarkan teori Aristoteles, politik yang ideal adalah gabungan antara monarki dan demokrasi sehingga dapat menciptakan masyarakat terbaik.

  1. 5.      Rod Hague

Politik adalah cara – cara kelompok mencapai tujuan dengan keputusan- keputusan kolektif yang mengikat melalui usaha –usaha untuk mendamaikan perbedaan anggota – anggotanya.

  1. 6.      Gabriel Almond

kegiatan yang berhubungan dengan kendali pembuatan keputusan publik dalam masyarakat tertentu di wilayah tertentu, di mana kendali ini disokong lewat instrumen yang sifatnya otoritatif (berwenang secara sah) dan koersif (bersifat memaksa). Politik mengacu pada penggunaan instrumen otoritatif dan koersif ini—siapa yang berhak menggunakannya dan dengan tujuan apa

  1. 7.      Robson

Ilmu politik adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada perjuangan untuk dapat mempertahankan kekuasaan, mempengaruhi pihak lain atau menentang pelaksanaan kekuasaan.

  1. 8.      Machiavelli

Inti teori politik Machiavelli menekankan pada kekuasaan, bagaimana kekuasaan ini didapat dan dipertahankan.

Kesimpulan Teori Politik dan Ilmu Politik

     Politik, menurut saya, adalah sebuah cara cara untuk mencapai masyarakat yang baik yaitu masyarakat yang sejahtera dan makmur. Cara yang ditempuh bisa beragam, dengan menguasai orang lain, menentang pihak lain, ataupun dengan membuat aturan – aturan yang berdasarkan kepentingan masyarakat banyak, yang tidak terlepas dari gejala konflik dan kerjasama.

     Ilmu Politik adalah suatu ilmu yang mempelajari mengenai system politik dan cara – cara mencapai masyarakat yang makmur dan sejahtera dengan baik dengan cara meraih kekuasaan baik secara paksa ataupun secara damai.

 

FENOMENA POLITIK : Pendidikan Politik

            Pendidikan politik memerankan fungsi yang cukup vital bagi perkembangan politik di Indonesia. Karena jika citra politik yang diberikan melalui pendidikan politik jelek, maka masyarakat akan memandang buruk politik. Padahal politik diciptakan untuk suatu kebaikan karena di dunia ini segala yang diciptakan tentu untuk hal yang baik.

            Agen – agen pendidikan politik cukup beragam, seperti misalnya keluarga, teman seperkumpulan, sekolah melalui guru/dosen, media cetak dan elektronik, partai politik, serta lingkungan. Jika agen – agen tersebut memberikan citra yan buruk terhadapa apa yang dinamakan politik, tentu banyak orang akan berkata bahwa politik itu kotor, politik itu sadis, politik itu kejam. Namun jika agen – agen ini memberikan citra positif terhadap apa yang dinamakan politik pastilah tidak banyak orang yang mencibir politik.

            Itulah gunanya pendidikan politik. Gunanya adalah memberikan pandangan yang tepat kepada masyarakat meengenai politik, apa hal buruk yang ada dalam politik, apa yang baik dalam politik. Karena seperti dalam filsafat kuno bahwa segala sesuatu memiliki dua sisi, buruk dan baik Untuk itu pendidikan politik diberikan agar masyarakat dapat memilah – milah segala yang baik

Berikut akan saya berikan contoh pendidikan politik adalah mengenai PILKADA Jakarta tahun 2012.

Pendidikan politik yang dipunyai masyarakat Jakarta cukup tinggi, walaupun tingkat golput juga tinggi. Hal ini terlihat dari sikap masyarakat dalam menilai calon gubernur, mana yang benar – benar pemimpin yang mau melayani, atau hanya sekedar pemimpin yang mau numpang eksis, atau bahkan yang mau korupsi.

Money politics yang sering menjadi cara cepat untuk mendapat suara pun tak banyak berhasil, serta isu – isu SARA yang dikumandangkan untuk menjatuhkan pasangan lain untuk memberikan citra negative pada lawan juga tidak mempan. Malahan, sumber – sumber yang menghembuskan isu demikan menjadi buruk citranya di masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan mengenai politik yang diterima masyarakat cukup tinggi. Masyarakat sekarang tidak mudah tersulut oleh isu – isu demikian sehingga tahu benar mana orang – orang yang mampu membawa mereka kepada kemakmuran dan kesejahteraan, mana pemimpin yang tidak berintegritas. Serta tidak hanya ikut – ikutan partai yang biasanya memiliki kendali cukup besar untuk mengerahkan suara massanya kepada satu pasang calon kepala daerah.

Pendidikan politik ini tidak merata diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, hal ini ditunjukkan dengan tingginya angka golput pada putaran pertama pilkada Jakarta yaitu 37,05 %. Menurut harian Seputar Indonesia (15/7), mereka yang golput merasa bahwa pilkada kali ini tidak akan memberikan perubahan yang berarti terhadap permasalahan yang dihadapi Jakarta. Kecemasan itu beralasan mengingat masalah yang dihadapi Jakarta cukup kompleks.

Pendidikan politik harus selalu gencar dilakukan kepada masyarakat agar mereka memahami politik yang sesungguhnya seperti apa. Karena yang penulis takutkan adalah dengan menurunnya citra politik di masyarakat sekarang, ketertarikan terhadap bidang ini pun berkurang. Kalaupun ada, mungkin bukan orang – orang yang baik dalam bidang ini sehingga politik semakin disalahgunakan oleh orang – orang yang tidak baik. .

 

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: