Kharisma Andromeda – 105120500111041

 Pengantar Ilmu Politik

 TUGAS 1

Ilmu Politik

Nama : Kharisma Andromeda

Nim : 105120500111041

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Brawijaya

Malang

2012

Konsep/Teori Ilmu Politik:

  • Francis Bacon merupakan filosof modern pertama. Pandangan keseluruhannya adalah sekuler dan bukannya religius (kendati dia percaya kepada Tuhan dengan keyakinan teguh). Dia seorang rasionalis dan bukan orang yang percaya kepada takhayul; seorang empiris dan bukannya seorang dogmatis yang logikanya mencla-mencle. Di bidang politik dia seorang realis dan bukan seorang teoritikus. Dengan pengetahuannya yang mendalam dalam pengetahuan klasik serta keahlian sastranya yang mantap, dia menaruh simpati terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun dia seorang Inggris yang setia, Bacon punya pandangan berjangka jauh melampaui batas negerinya. Dia membedakan 3 jenis ambisi : Pertama, mereka yang berselera meluaskan kekuasaannya di negerinya sendiri, suatu selera yang vulgar dan tak bermutu. Kedua, ialah mereka yang bekerja meluaskan kekuasaan atas negerinya sendiri dan penguasaannya atas penduduk. Ini tentu lebih bermutu meskipun kurang baik. Tetapi, jika orang mencoba mendirikan dan meluaskan kekuasaan dan dominasi terhadap umat manusia di seluruh jagad, ambisinya ini tak salah lagi lebih bijak dari kedua ambisi yang disebut duluan. Biarpun Bacon seorang pengkhotbah ilmu pengetahuan, dia sendiri bukan seorang ilmuwan, ataupun setara dengan kemajuan-kemajuan yang diperbuat orang sejamannya. Bacon anggap sepi sama sekali Napier (yang baru saja menemukan logaritma) dan Kepler, bahkan teman sejawat Inggrisnya William Harvey. Bacon dengan tepat mengganggap bahwa “panas merupakan bentuk dari gerak,” suatu ide ilmiah yang penting. Tetapi, di bidang astronomi dia menolak pikiran-pikiran Copernicus. Haruslah diingat, Bacon tidak mencoba menyuguhkan hukum-hukum ilmiah secara komplit dan tepat. Dia sekadar hanya mencoba menyuguhkan hasil pengamatan apa-apa yang perlu dipelajari. Perkiraan-perkiraan ilmiahnya hanya bermaksud mendorong adanya diskusi lebih lanjut, dan bukannya suatu jawaban final. Francis Bacon bukanlah orang pertama yang menemukan arti kegunaan penyimpulan akliah secara induktif. Tetapi, tak ada orang sebelum Bacon yang pernah menerbitkan dan menyebarkan gagasan seluas itu dan sesemangat itu. Lebih dari itu, sebagian karena Bacon seorang penulis yang begitu bagus, dan sebagian karena kemasyhurannya selaku politikus terkemuka, sikap Bacon terhadap ilmu pengetahuan betul-betul punya makna penting yang besar. Tatkala “Royal Society of London” (kelompok elit orang pilihan) didirikan tahun 1662 untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, para pendirinya menyebut Bacon sebagai sumber inspirasinya. Dan ketika Encyclopedie yang besar itu ditulis jaman “Pembaharuan Perancis,” para penyumbang tulisan utama seperti Diderot dan d’Alembert, juga menyampaikan pujiannya kepada Bacon yang memberikan inspirasi terhadap kerjanya. Andaikata Novum Organum dan The New Atlantis agak kurang dibaca orang ketimbang dulu, ini disebabkan pesan-pesan yang disampaikan oleh buku itu sudah begitu luas diterima orang.
  • Hegel dikenal sebagai filosof yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran)dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empris indrawi. Pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari, spontan, bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, umum, statis, dan konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair. Pengingkaran adalah konsep pengertian pertama (pengiyaan) dilawanartikan, sehingga muncul konsep pengertian kedua yang kosong, formal, tak tentu, dan tak terbatas. Menurut Hegel, dalam konsep kedua sesungguhnya tersimpan pengertian dari konsep yang pertama. Konsep pemikiran kedua ini juga diterangkan secara radikal agar kehilangan ketegasan dan mencair. Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan menuju kebenaran) maka kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan dan saling mengevaluasi.
  • Johann Gottlieb Fichte (19 Mei 1762 – 27 Januari 1814 – umur 51 tahun) adalah seorang filsuf Jerman yang turut menjadi pionir dalam mengembangkan Mazhab Idealisme. Mazhab inilah yang memainkan peranan penting pada era pasca-Kant. Fichte lahir di Saxony pada tahun 1762. Ayahnya adalah seorang penyamak kulit di sebuah desa kecil. Pada tahun 1780, Fichte belajar teologi di Jena dan Leipzig. Karena tidak memiliki uang, Fichte berhenti dari studinya lalu bekerja sebagai guru pada beberapa keluarga kaya. Di sinilah, Fichte kemudian berkenalan dengan filsafat Kant yang amat mempengaruhinya. Fichte meninggal pada tahun 1814. Fichte memulai filsafatnya dengan kesadaran atau keyakinan subyek terhadap dirinya sendiri. Pengetahuan tentang segala sesuatu berawal dari kegiatan berpikir subyek yang merefleksikan dirinya sendiri. Jika kita mengamati diri sendiri, maka dengan sadar manusia akan melihat adanya gagasan-gagasan yang muncul dengan sendirinya. Sistem dari gagasan-gagasan tersebut disebut pengalaman. Menurut Fichte, hanya ada dua unsur dalam pengalaman manusia, yakni benda dan intelegensi (dalam bahasa Jerman Ding und Intelligenz). Benda atau obyek adalah sasaran pengetahuan, sedangkan intelegensi adalah daya yang memungkinkan subyek mengarahkan diri kepada obyek, untuk mengenali, dan menanggapi obyek juga. Fichte sering dianggap sebagai tokoh filsafat yang membentuk jembatan antara ide-ide Kant dan orang-orang dari Jerman Idealist Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Baru-baru ini, filsuf dan sarjana telah mulai menghargai Fichte sebagai filsuf penting di kanan sendiri karena wawasan aslinya ke dalam sifat dari kesadaran diri atau kesadaran diri. Seperti Descartes dan Kant sebelum dia, ia termotivasi oleh masalah subjektivitas dan kesadaran. Fichte juga menulis karya-karya filsafat politik dan dianggap salah satu bapak nasionalisme Jerman.
  • Mohandas Karamchand Gandhi atau yang biasa dikenal Mahatma Gandhi lahir 2 Oktober 1869, Porbandar, Seorang nasionalis pemimpin politik dan aktivis antikekerasan dalam abad ke-20. Dipuja di India sebagai “Bapak Bangsa,” Gandhi juga merupakan ikon anti-kekerasan perlawanan politik. Pemimpin Kongres Nasional India, pemimpin agama Anak Perdana Menteri seorang pangeran. Gandhi dibesarkan di sebuah rumah taat agama, toleransi agama dan ajaran ahimsa. Gandhi dididik di Gujarat dan belajar hukum di Inggris tapi sepertinya terlalu malu menjadi seorang pengacara. Kembali ke India, ia tidak mampu mendapatkan pekerjaan dalam profesi hukum dan kemudian berangkat ke Afrika Selatan pada tahun 1883. Ia mengambil pekerjaan dengan perusahaan India di Afrika Selatan. Arti penting Gandhi terletak pada anjuran “tanpa kekerasan”nya. (Gandhi sendiri secara khusus mengatakan ide itu berasal dari tulisan Thoreau, Tolstoy dan Perjanjian Baru dan pelbagai tulisan pemuka agama Hindu). Filsafat politik Gandhi berkisar tiga konsep kunci : satyagraha (anti-kekerasan), sawaraj (rumah pemerintahan) dan Sarvodaya (kesejahteraan semua). Sedangkan satyagraha pada dasarnya merupakan taktik untuk mencapai tujuan politik oleh anti-kekerasan, sawaraj dan Sarvodaya berusaha untuk mendorong melalui kerja sosial, pemintalan kapas, mengangkat pedesaan dan kesejahteraan sosial individual dan kolektif perbaikan dan regenerasi.
  • Coluccio Salutati (16 Februari 1331 – 4 Mei 1406) adalah seorang Humanis Italia dan sastrawan dan salah satu pemimpin politik dan budaya yang paling penting dari zaman renaissance di Florence. Salutati lahir di Stignano, dekat Buggiano (provinsi hari ini Pistoia, Tuscany). Setelah studi di Bologna, ia mulai bekerja sebagai notaris di kota itu, maka bagian dari Republik Florence. Surat-suratnya kepada ulama Florence dia mendapat julukan “Ape Cicero”, mengacu pada penguasaan nya gaya Latin. Francesco Bruni mengambil Salutati dengan dia di Roma 1368-1370, sebagai asisten di secretacy Kepausan. Setelah karirnya didorong oleh tinggal di Roma, karena itulah dia ditunjuk rektor Todi dan kemudian dari Lucca kuat. Humanisme adalah sebuah pendekatan dalam penelitian, filsafat, atau praktik yang berfokus pada nilai-nilai kemanusiaan dan keprihatinan. Dalam filsafat dan ilmu sosial, humanisme adalah perspektif yang menegaskan beberapa pengertian tentang sifat manusia dan kontras dengan anti-humanisme. Humanisme sekuler adalah ideologi sekuler yang mengemban alasan, etika dan keadilan, sementara khusus supranatural dan menolak. dogma agama sebagai dasar moralitas dan pengambilan keputusan. Humanisme Sekuler kontras dengan Humanisme Agama, yang merupakan integrasi filsafat etika humanis dengan ritual keagamaan dan keyakinan bahwa pusat pada kebutuhan manusia, minat dan kemampuan humanisme Renaisans. Adalah gerakan kebudayaan Renaissance Italia didasarkan pada studi klasik bekerja. Humanisme Renaisans merupakan kegiatan reformasi budaya dan pendidikan terlibat oleh para sarjana, penulis dan pemimpin sipil yang sekarang dikenal sebagai humanis. Ini dikembangkan selama empat belas dan awal abad kelima belas dan merupakan respon terhadap tantangan skolastik abad pertengahan pendidikan, menekankan studi praktis, pra-profesional dan ilmiah. Skolastik berfokus pada mempersiapkan orang untuk menjadi dokter, pengacara atau teolog profesional dan diajarkan dari buku teks yang disetujui dalam logika, alam filsafat, kedokteran, hukum dan teologi. Pusat-pusat utama dari humanisme adalah Florence dan Napoli.
  • Herbert Spencer (lahir di Derby, 27 April 1820 – meninggal di Brighton, 8 Desember 1903 pada umur 83 tahun) adalah seorang filsuf Inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori politik dan menekankan pada “keuntungan akan kemurahan hati”, dia lebih dikenal sebagai bapak Darwinisme sosial. Spencer seringkali menganalisis masyarakat sebagai sistem evolusi, ia juga menjelaskan definisi tentang “hukum rimba” dalam ilmu sosial. Dia berkontribusi terhadap berbagai macam subyek, termasuk etnis, metafisika, agama, politik, retorik, biologi dan psikologi. Spencer saat ini dikritik sebagai contoh sempurna untuk scientism atau paham ilmiah, sementara banyak orang yang kagum padanya di saat ia masih hidup. Herbert Spencer lahir di Derby, Inggris, pada tanggal 27 April 1820, putra dari William George Spencer (umumnya disebut George). Ayah Spencer adalah seorang pembangkang agama yang hanyut dari Methodist untuk Quakerisme, dan yang tampaknya telah menular kepada anaknya oposisi untuk segala bentuk otoritas. Ia berlari sekolah yang didirikan pada metode pengajaran progresif Johann Heinrich Pestalozzi dan juga menjabat sebagai Sekretaris Derby Philosophical Society, suatu masyarakat ilmiah yang telah didirikan pada tahun 1790-an oleh Erasmus Darwin, kakek Charles. Spencer dididik dalam ilmu empiris oleh ayahnya, sedangkan anggota Derby Philosophical Society memperkenalkannya kepada konsep-konsep pra-Darwinian evolusi biologi, khususnya mereka yang Erasmus Darwin dan Jean-Baptiste Lamarck. Pamannya, Pendeta Thomas Spencer, pendeta Hinton Charterhouse dekat Bath, menyelesaikan pendidikan formal yang terbatas Spencer dengan mengajar dia beberapa matematika dan fisika, dan cukup Latin untuk memungkinkan dia untuk menerjemahkan beberapa teks mudah. Thomas Spencer juga dicantumkan pada keponakannya sendiri tegas perdagangan bebas dan pandangan politik anti-statis. Jika tidak, Spencer adalah seorang otodidak yang sebagian besar pengetahuan yang diperoleh dari pembacaan difokuskan secara sempit dan percakapan dengan teman-temannya dan kenalan. Baik sebagai seorang remaja dan seorang pria muda Spencer sulit untuk menyelesaikan untuk setiap disiplin intelektual atau profesional. Dia bekerja sebagai seorang insinyur sipil selama booming kereta api dari 1830-an, sementara juga mencurahkan banyak waktu untuk menulis untuk jurnal provinsi yang nonkonformis dalam agama mereka dan radikal dalam politik mereka. Dari 1848-1853 ia menjabat sebagai sub-editor pada jurnal perdagangan bebas The Economist, selama waktu itu ia menerbitkan buku pertamanya, Sosial Statika (1851), yang meramalkan bahwa umat manusia akhirnya akan menjadi benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan hidup dalam masyarakat dengan pergi layu konsekuensi negara. Menurutnya, objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial dan industri. Termasuk pula asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, pelapisan sosial, sosiologi pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Pada tahun 1879 ia mengetengahkan sebuah teori tentang Evolusi Sosial yang hingga kini masih dianut walaupun di sana sini ada perubahan. Ia juga menerapkan secara analog (kesamaan fungsi) dengan teori evolusi karya Charles Darwin (yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera) terhadap masyarakat manusia. Ia yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri. Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain. Spencer juga menemukan prekursor ke klip kertas modern, meskipun lebih mirip pasak modern.
  • Karl Heinrich Marx (lahir di Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – meninggal di London, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai “Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas”, sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis. Dia pelopor utama gagasan “sosialisme ilmiah”, Ayahnya ahli hukum dan di umur tujuh belas tahun Karl masuk Universitas Bonn juga belajar hukum. Belakangan dia pindah ke Universitas Berlin dan kemudian dapat gelar Doktor dalam ilmu filsafat dari Universitas Jena. Marx menceburkan diri ke dunia jurnalistik dan sebentar menjadi redaktur Rheinische Zeitung di Cologne. Tapi pandangan politiknya yang radikal menyeretnya ke dalam rupa-rupa kesulitan dan memaksanya pindah ke Paris. Di Paris dia mula pertama bertemu dengan Friederich Engels. Tali persahabatan dan persamaan pandangan politik mengikat kedua orang ini selaku dwi tunggal hingga akhir hayatnya. Namun Marx tak bisa lama tinggal di Paris dan segera ditendang dari sana dan mesti menjinjing koper pindah ke Brussel. Di kota inilah, tahun 1847 dia pertama kali menerbitkan buah pikirannya yang penting dan besar The poverty of philosophy (Kemiskinan filsafat). Tahun berikutnya bersama bergandeng tangan dengan Friederich Engels mereka menerbitkan Communist Manifesto, buku yang akhirnya menjadi bacaan dunia. Pada tahun itu juga Marx kembali ke Cologne untuk kemudian diusir lagi dari sana hanya selang beberapa bulan. Sehabis terusir sana terusir sini, akhirnya Marx menyeberang Selat Canal dan menetap di London hingga akhir hayatnya. Meskipun ada hanya sedikit uang di koceknya berkat pekerjaan jurnalistik, Marx menghabiskan sejumlah besar waktunya di London melakukan penyelidikan dan menulis buku-buku tentang politik dan ekonomi. (Di tahun-tahun itu Marx dan familinya dapat bantuan ongkos hidup dari Friederich Engels kawan karibnya). Jilid pertama Das Kapital, karya ilmiah Marx terpenting terbit di tahun 1867. Tatkala Marx meninggal di tahun 1883, kedua jilid sambungannya belum sepenuhnya rampung. Kedua jilid sambungannya itu disusun dan diterbitkan oIeh Engels berpegang pada catatan-catatan dan naskah yang ditinggalkan Marx. Karya tulisan Marx merumuskan dasar teoritis Komunisme. Ditilik dari perkembangan luar biasa gerakan ini di abad ke-20. Faktor utama bagi keputusan ini adalah perhitungan arti penting Komunis jangka panjang dalam sejarah. Sejak tumbuhnya Komunisme sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah masa kini, terasa sedikit sulit menentukan dengan cermat perspektif masa depannya. Kendati tak seorang pun sanggup memastikan seberapa jauh Komunisme bisa berkembang dan berapa lama ideologi ini bisa bertahan, yang sudah pasti dia merupakan ideologi kuat dan tangguh serta berakar kuat menghunjam ke bumi, dan sudah bisa dipastikan punya pengaruh besar di dunia untuk paling sedikit beberapa abad mendatang. Pada saat kini, sekitar seabad sesudah kematian Marx, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme sudah mendekati angka 1,3 milyar banyaknya. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia. Bukan sekedar jumlahnya yang mutlak, melainkan juga sebagai kelompok dari keseluruhan penduduk dunia. Ini mengakibatkan kaum Komunis, dan juga sebagian yang bukan Komunis, percaya bahwa di masa depan tidak bisa tidak Marxisme akan merebut kemenangan di seluruh dunia. Namun, adalah sukar untuk memantapkan kebenarannya dengan keyakinan yang tak bergoyah.

Kesimpulan :

  • Pada intinya yang bisa saya simpulkan ialah bagaimana seseorang menerapkan strategi kolektivitasnya sendiri dengan metode yang berbeda-beda pada setiap filosof. Ideologi yang mereka bawa selalu menjadi pembeda pada setiap jaman untuk menjadi pengetahuan yang akan datang. Dan menurut saya kekuasaan selalu identik dengan politik jadi konsep-konsep atau teori yang dilakukan tak khayal salah satu upaya mereka dalam membangun kekuasaan dalam ruang lingkup yang kecil/besar.

Fenomena Politik :

  • Seseorang yang sedang makan. Hal ini dapat saya katakan fenomena politik karna orang yang sedang makan tanpa disadari ia telah menguasai dirinya sendiri. Dengan makan secara baik dan sopan ia sudah berhasil menguasai dirinya sendiri, dan ini merupakan fenomena kecil yang terjadi pada sehari-hari.

 

 Pengantar Ilmu Politik

 TUGAS 2

 

Ilmu Politik

Nama : Kharisma Andromeda

Nim : 105120500111041

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Brawijaya

Malang 2012

 

 

    1. a. Pemahaman Negara Menurut Para Filosof

    • Benedictus de Spinoza: “Negara adalah susunan masyarakat yang integral (kesatuan) antara semua golongan dan bagian dari seluruh anggota masyarakat (persatuan masyarakat organis).”

    • Dr. W.L.G. Lemaire: Negara tampak sebagai suatu masyarakat manusia teritorial yang diorganisasikan.

    • Hugo de Groot (Grotius): Negara merupakan ikatan manusia yang insyaf akan arti dan panggilan hukum kodrat.

    • Prof. Mr. Kranenburg: “Negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut bangsa.”

    • Max Weber: The state is a human society that (succesfully) claims the monopoly of the legitimate use of physical force within a given territory. (Negara adalah suatu masyarakat yang memonopoli penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah).

    • Bellefroid: Negara adalah suatu persekutuan hukum yang menempati suatu wilayah untuk selama-lamanya dan dilengkapi dengan suatu kekuasaan tertinggi untuk menyelenggarakan kemakmuran rakyat sebesar-besarnya.

    • Prof.Mr. Soenarko: Negara adalah organisasi masyarakat di wilayah tertentu dengan kekuasaan yang berlaku sepenuhnya sebagai kedaulatan.

    • G. Pringgodigdo, SH: Negara adalah suatu organisasi kekuasaan atau organisasi kewibawaan yang harus memenuhi persyaratan unsur-unsur tertentu, yaitu harus memiliki pemerintah yang berdaulat, wilayah tertentu, dan rakyat yang hidup teratur sehingga merupakan suatu nation (bangsa).

    • Prof. R. Djokosutono, SH: Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.

    • O. Notohamidjojo: Negara adalah organisasi masyarakat yang bertujuan mengatur dan memelihara masyarakat tertentu dengan kekuasaannya.

    • Dr. Wiryono Prodjodikoro, SH: Negara adalah suatu organisasi di antara kelompok atau beberapa kelompok manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu dengan mengakui adanya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia itu.

    • M. Solly Lubis, SH: Negara adalah suatu bentuk pergaulan hidup manusia yang merupakan suatu community dengan syarat-syarat tertentu: memiliki wilayah, rakyat dan pemerintah.

    • Prof. Miriam Budiardjo: Negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah.

    • Prof. Nasroen: Negara adalah suatu bentuk pergaulan manusia dan oleh sebab itu harus ditinjau secara sosiologis agar dapat dijelaskan dan dipahami.

    • Mr. J.C.T. Simorangkir dan Mr. Woerjono Sastropranoto: Negara adalah persekutuan hukum yang letaknya dalam daerah tertentu dan memiliki kekuasaan tertinggi untuk menyelenggarakan kepentingan umum.

    b. Asal Mula Terbentuknya Negara

    Asal mula terjadinya negara dibagi menjadi 2, yaitu:

    1. Secara Primer

    2. Secara Sekunder

    1. Secara Primer

    Asal mula terjadinya Negara secara primer biasa disebut juga pendekatan teoritis yang bersifat dugaan yang dianggap benar.

    Negara terjadi melalui beberapa tahapan dan tidak ada hubungan dengan Negara yang telah ada sebelumnya.

    Tahapan terjadinya Negara:

    1. Genoot Schaft (Suku)

    Terdapat istilah Primus Interpares yang artinya Yang utama di antara sesama.

    1. Rijk/Reich (Kerajaan

    Di sini muncul kesadaran hak milik dan hak atas tanah.

    1. Taat

    Kesadaran akan perlunya demokrasi dan kedaulatan rakyat.

    1. Diktatur Natie

    1. Secara Sekunder

    Asal mula terjadinya Negara secara sekunder lebih pada pendekatan fakta atau kenyataan. Terjadinya Negara/lahirnya Negara ada hubungan dengan Negara yang telah ada sebelumnya.

    Terdapat beberapa macam dari asal mula terjadinya Negara secara sekunder, yaitu:

    1. Proklamasi

    Pernyataan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.

    1. Fusi

    Peleburan 2 negara atau lebih dan membentuk 1 negara.

    1. Aneksasi

    Pencaplokan. Suatu daerah dikuasai Negara lain tanpa perlawanan.

    1. Cessie

    Penyerahan. Sebuah daerah diserahkan kepada Negara lain berdasarkan perjanjian.

    1. Acessie

    Penarikan. Bertambahnya suatu wilayah karena proses pelumpuran laut dalam kurun waktu yang lama dan dihuni oleh kelompok.

    1. Okupasi

    Pendudukan. Suatu wilayah yang kosong kemudian diduduki sekelompok bangsa sehingga berdiri Negara.

    1. Inovasi

    Suatu Negara pecah, kemudian lenyap dan memunculkan Negara baru di atasnya.

    c. Kesimpulan

    Suatu wilayah dapat dikatakan Negara apabila terdapat masyarakat atau warganya yang sepakat untuk membentuk suatu pemerintahan, dan orang-orang yang berkedudukan di pemerintahan merupakan sebuah kesepakatan dari mereka yang telah disetujui dan dipilih untuk mewakili masyarakat tersebut. Tujuan dari di bentuknya Negara agar suatu kumpulan masyarakat tersebut mempunyai struktur dan aturan yang jelas untuk di jalankan bersama.

    1. Perkembangan Pemikiran Politik ( Klasik – Modern )

    Dari perkembangan politik yang saya kemukakan ialah Pemikiran Politik Islam. Pertumbuhan  pemikiran politik Islam, dalam  periode awal   banyak dipengaruhi  oleh  pergulatan   kepentingan keagamaan.  Semenjak  Abu  Bakar naik  sebagai   khalifah pertama Islam, diskursus politik sangat marak. Baik dalam perbincangan  aktor,  apakah  Abu  Bakar  sebagai  seorang  kepala pemerintahan saja atau sebagai sekaligus  pemimpin agama.  Di  mana ditandai dengan  perseteruan  yang  keras antara  kalangan  Muhajirin  yang  beretnis Quraisy  yang merasa  sebagai  pembela  Islam  pertama  dengan  kalangan Anshor,  yang  merasa memiliki tanah  air  Islam  pertama.       Bahkan perbincangan  dengan  keputusan  Abu  Bakar untuk memerangi  orang  yang tidak membayar  pajak,  juga telah menimbulkan  sejarah baru tentang perkembangan pemikiran politik.  Sebab  selama Rasul hidup, beliau  tidak pernah menjatuhkan  hukum  perang  kepada orang  yang tidak  mau membayar zakat.  Sehingga  terdapat  ahli  sejarah,  yang mengkritisi fenomena dengan politis, bahwasannya Abu Bakar memeranginya  lebih  karena kepentingan politik,  berupa loyalitas  kepada pemimpin, dari pada persoalan agama.

    Pergulatan   pemikiran  politik  Islam  juga   cukup menonjal  dalam mensikapi pemerintahan Umar  bin  Khattab yang  sangat  tegas tetapi demokratis.  Banyak  kebijakan-kebijakan  politik  Umar bin Khattab yang berbeda  dengan kebijakan  Nabi, semisal dalam persoalan  pembagian  harta rampasan perang. Apakah ini ijtihadi politik Umar sendiri, atau bukan ? Umar bin Khattab juga seorang pemimpin  yang ingin meletakkan politik dalam panggung keadilan, hal  ini tercemin dalam  sikap  Umar  ketika   dilantik menjadi Khalifah.  Ia mengangkat  pedang  tinggi,  untuk  membela Islam,  jika ia tidak  selaras  dengan  Islam,  maka  ia menyuruh masyarakat mengingatkannya dengan pedang pula.

    Demikian  juga  dalam  masa  pemerintahan   Khalifah Utsman,   pemikiran politik  tentang   kualisi,   aliansi tampaknya  sangat menonjol. Posisi usia Utsman yang  sudah cukup  tua, yang kemudian dimanfaatkan oleh kerabat dekat Utsman  untuk  mempengaruhi  roda  pemerintahan.  Di mana kemudian ditandai dengan   kondisi   nepotisme   dalam pemerintahan Utsman.

    Situasi  yang  sangat kondusif  memunculkan  variasi pemikiran  politik adalah  ketika  Ali  bin  Abu  Thalib, diangkat menjadi Khalifah. Konflik politik berkepanjangan berkaitan  dengan  pembunuhan  Utsman,  menjadikan   sebab timbulnya  perang  saudara di sesama Musli.  Bahkan  istri Rasulullah sendiri, Aisyah, ikut mempimpin perang  melawan Ali  dalam perang Jamal (Onta). Yang mana dikemudian  hari menjadi  diskursus  panjang  tentang  poleh  tidak  wanita menjadi  pemimpin suatu kaum. Dalam masa inilah  kemudian, perbedaan kepentingan   aqidah  dipolitisir  lebih   jauh menjadi  sebuah  kepentingan politik.  Dinamika   politik inilah  yang  kemudian  melahirkan  mazhab  politik Islam klasik yang terbagi dalam tiga mazhab besar; yakni  Sunni, Syi’ah  dan Khawarij. Dari tiga mazhab  politik  ini,  di kemudian  hari melahirkan derivasi pemikiran  yang  sangat kompleks  dan  berkelanjutan.  Dari  generasi  4 Khilafah Rasyidah  inilah,  ide  pemikiran  politik  Klasik  banyak dibangun.

    Pemikiran Islam Klasik

    Dalam  sejarah  pertumbuhan peranan  negara  –dalam pemikiran politik Islam klasik– menduduki posisi  sentral dari keberlangsungan Islam sebagai ajaran yang total  dan fundamental.   Keberadaan  negara  dalam  batas   tertentu sebagai penjamin  terlaksana  tidaknya  syari’ah   Islam. Bahkan  dalam pandangan Ibnu Taimiyyah  mendirikan negara adalah sebuah tugas suci dan rohani bagi setiap muslim.

    Pemikiran Poliitik Islam klasik setidaknya  diwarnai dengan beberapa corak pemikiran yang khas;

    1. Terdapatnya  pengaruh yang signifikan  dari  pemikiran-pemikiran  Yunani, terutama  Plato.  Interaksi  dengan pemikiran  Yunani ini tampak menonjol dalam  masa-masa pemerintahan kekhilafahan Abbasiyah.

    2. Pemikiran politik sebagian besar memberikan  legitimasi terhadap status quo. Baik dalam formulasi teoretik yang memberikan  dukungan  sampai hanya  memberikan saran-saran.

    3. Pemikiran   politik   Islam   lebih    berkecenderungan menampilkan  bentuk-bentuk yang idialis  daripada  yang lebih operasional.

    Pemikiran   Islam klasik  dalam  kaitannya   dengan managemen kenegaraan terdapat   variasi pendekatan: Sentralisme Khalifah Institusionalisme, dan Organisme. Managemen  kenagaraan dengan pendekatan sentralisme banyak dikemukakan oleh para filsof baik dari Al-Farabi, Ibnu  Sina  maupun Al-Ghazali. Pandangan Farabi  dan Ibnu Sina  dalam batas tertentu terasa sangat idealis  di  mana khalifah harus dipegang oleh seorang filsuf sebagai bentuk pengaruh  pemikiran Yunani.

    Pandangan Al-Ghazali  menjadi lebih realistis dibandingkan dengan mereka karena Ghazali pernah  terlibat dalam  pemerintahan  dinasti  Abbasiyah, sekaligus teman karib dari Perdana Menteri Nizhamul  Mulk. Pandangan  kaum filsof menempatkan bahwa negara akan  baik dan  tidak sangat tergantung kepada sang  Khalifah,  jika khalifah  baik maka negara akan baik.  Khalifah merupakan implementasi bayangan Tuhan di bumi.

    Sentralnya peran Khalifah tercermin dalam pernyataan Ghazali  dalam Mukadimmah  buku  “Al-Muhtazhir”: Pertama, sesungguhnya  keberesan  agama tidaklah  tercapai   kalau dunianya tidak beres, sedangkan keberesan dunia tergantung kepada  khalifah yang ditaati. Kedua,  ketentraman   dunia dan keselamatan  jiwa dan harta  hanyalah   dapat  diatur dengan adanya khalifah yang ditaati. Dengan  alasan  ini, Ghazali secara  tegas menyatakan syarat menjadi  seorang khalifah adalah mewakili pribadi para shahabat utama,  di mana memenuhi syarat ilmiyah dan amaliyah. Syarat ilmiyah yang berkaitan dengan kepribadian  yang baik,  sedang  amaliyah yang  berkaitan  dengan  perasaan emphati  kepada lingkungan dengan baik. Di  mana  kemudian terangkum  ke dalam syarat yang  4:  najah   (kemampuan bertindak, kewibawaan, wara’ (jujur), dan ilmuan (cerdas). Jika  syarat-syarat  tersebut tidak terpenuhi maka ia akan ditempatkan ke  dalam  level  yang lebih  rendah  wewenangnya   dalam kepemimpinan   sesuai dengan  gelarnya. Khalifah  bagi yang memenuhi syarat kesemuanya,  Imam Dharury, khalifah yang diangkat karena dharurat saja, Wali bisy-syaukah,  kepala negara yang merampas kekuasaan,  dan zus syaukah, Sehingga   baik buruknya  akhlaq seorang kepala negara  menjadi  prasyarat utama  dari khalifah.

    Sedangkan pendekatan institusional banyak dipelopori oleh   Imam Mawardi,  karya  terbesarnya  dalam   politik terangkum  dalam “Al-Ahkam As-Sulthaniyyah”. Bagi Mawardi yang  paling  penting  dalam  pengelolaan  negara adalah pemantapan  struktur  dan  fungsi  kelembagaan, terutama sekali kelembagaan  kepala  negara  (khalifah)  dan yang memilih  kepala  negara  (ahl-ikhtiar).  Orang-orang yang tergabung  dalam kelembagaan ini adalah  orang-orang  yang terpercaya, ahlul hal wal aqdi (orang yang faham akan satu hal (profesional) sekaligus orang yang  adil).  Pandangan Mawardi tidak banyak berbeda dalam memandang peran kepala negara (khalifah) sebagai bagian yang sentral.

    Pandangan seperti ini memancing kritik  bahwa Mawardi dalam merumuskan tulisannya  atas  dasar  apalogi dan legitimasi  kekuasaan kekhalifahan,  terutama dalam  hal pembenaran  pergantian khalifah secara turun-temurun  jika keadaan terpaksa.

    Pandangan   Mawardi  tidak  bisa   dilepaskan dari kedudukan   Mawardi sebagai   sebagai   seorang    Wazir (Penasehat)  dalam  masa khalifah al-Qadir  dan al-Qasim pada pemerintahan Abbasiyah. Mawardi mendapatkan perintah dari khalifah bagaimana secara teoritis bisa  mempertahankan kelangsungan kekhalifahan Sunni  yang  sedang  dalam kemunduran.  Nasehat-nasehat Mawardi ini di kemudian  hari disadur  oleh  Machiavelli dalam “Sang Pangeran” sebagai nasehat  kepada  raja bagaimana  menjalankan  pemerintahan yang diambang kemunduran.

    Nasehat Machiavelli adalah nasehat yang realisme dengan pernyataan bahwa untuk mempertahankan kekuasaan seorang raja  lebih  harus ditakuti daripada dicintai rakyatnya. Jika rakyat dicintai maka akan banyak menuntut dan berani. Sedangkan  dalam  pandangan Mawardi, raja yang  baik  demi mempertahankan kekuasaan adalah raja yang lebih  dicintai rakyatnya dan tidak menimbulkan perasaan takut.

    Pandangan   yang   ketiga  dikemukakan   oleh   Ibnu Taimiyyah  di  mana melandaskan pemikirannya  bahwa baik-buruknya  suatu pemerintahan tidak hanya  ditentukan  oleh kualitas  yang  baik dari kepala negara akan  tetapi  oleh organ  kenegaraan  secara luas. Pandangan  Ibnu  Taimiyyah banyak  dirujuk dari bukunya Minhajul Sunnah  dan Siyasah Asy-Syar’iyyah.  Fungsi  organisme yang ditamsilkan  oleh hadis  tentang hubungan antar mukmin sebagai  saudara  dan bangunan  yang saling melengkapi disadurnya  dalam  bentuk pemerintahan.

    Dengan  pandangan ini Taimiyyah melakukan reformasi sekaligus melakukan   kritik  sosial   terhadap   sistem kekhalifahan.  Runtuh  dan hancurnya  sistem  kekhilafahan pada  satu sisi disebabkan karena masalah akhlaq  pemimpin yang  merosot.

    Akan tetapi tidak  berfungsinya  lembaga-lembaga  pendukung kekhilafahan yang selamanya ini  tampak hanya  sebagai pelengkap saja. Ketergantungan yang besar kepada  sang  Khalifah dalam batas  tertentu  menghasilkan kinerja kekhilafahan yang sesukanya yang kemudian mengarah kepada dekadensi moral. Runtuhnya  kekhalifahan Abbasiyyah  sebagai   akibat serangan tentara Monghol secara mendadak karena terjadinya pengkhianatan   Wazir  terhadap kekhalifahan,   di   mana Khalifah  sendiri  tidak menyadarinya.

    Dari  pijakan  ini  Taimiyyah  melakukan   reformasi terhadap  gejala pengagungan Khalifah pada  mazhab  Sunni maupun Imam Ma’shum pada mazhab Syi’ah sekaligus melakukan kriitikan  kepada  mazhab Khawarij. Pandangan ini sebagai upaya  untuk  mengkatrol peran ummah sebagai bagian yang spesfik  dari  negara  untuk  turut  menentukan kehidupan bernegara.

    Dalam  batasan  tertentu posisi kepala  negara  akan banyak ditentukan oleh Ummah yang terwakili dalam lembaga legistatif.  Posisi Ummah ini sebagai sarana transformasi yang memiliki kedudukan suci sebagaimana kedudukan Nabi. Pemimpin  yang sudah terpilih oleh lembaga tersebut harus dibai’ah (disumpah dan dipersaksikan). Dalam proses bai’ah ini,  rakyat atau anggota masyarakat  diperkenankan tidak membai’ah  dan  tidak akan dikenakan penjara dan ancaman subversif.

    Pandangan  Ibnu  Taimiyah ini sebagai  reaksi  dari masa  dis-integrasi kekhilafahan Abbasiyah dan  keimamahan Syiah. Ibnu Taimiyah yang besar dengan mazhab Hambali yang kritis   terhadap  pemerintahan  tidak  banyak melakukan pembelaan   akan  pemerintahaan  yang  ada   akan   tetapi melakukan pembenahan-pembenahan kenegaraan menurut pedoman Qur’an  dan Sunnah sekaligus dengan  menggunakan kekuatan akal.

    Dasar-dasar   peletakan  pemikiran  Ibnu   Taimiyyah mengilhami penggalian-penggalian asas politik Islam secara lebih  cermat.  Seperti masalah keadilan,  Ibnu Taimiyyah memberikan   peryataan  yang  cukup   kontroversi dengan ungkapan  “Lebih baik dipimpin oleh orang kafir yang  adil daripada dipimpin  orang Islam yang  zhalim”.  Pernyataan seperti  ini  jelas  tidak  bisa diterima  bagi  kalangan sentralisme khalifah dan institusionalis yang mengedepan-kan syarat   keislaman  daripada   keadilan.   Pandangan kontroversi ini  setidaknya  sebagai  akumulasi   masalah Taimiyyah yang menghadapi penguasa Islam yang zalim. Ibnu Taimiyyah yang bermazhab Hambali  sangat sering bersitegang  dengan  penguasa  yang  kemudian menghantarkannnya  ke penjara. Bahkan Taimiiyah maupun Imam  Hambali meninggal  di  penjara.

    Konsep  syura  pada  akhirnya  menjadi  embrio  yang dikupas  oleh Taimiyyah. Dengan konsep Syura,  maka ummat akan   ditempatkan  sebagai peran  yang   sentral   dalam kedudukan   pemerintahan  dan  negara. Syura diambil dari kata al-istikharaaj yang  maksudnya mengambil   madu sedikit demi sedikit,   jika   hendak mengeluarkannya  dari sarangnya dan  memeriknya, memilih sesuatu  untuk diketahui keadaannya. Atau Imam  al-Qurtubi berkata bahwa kata istisyarah diambil dari perkataan Arab: Syarratid   Dabbatu Wasyaurabika  idza’alimat   khabaraha bijarinau  ghairahu     ( menguji  hewan untuk   mengetahui  sejauh  mana larinya atau lainnya.

    Syura   kemudian mendapat peran yang legal untuk melakukan prinsip politik Islam berupa bai’ah. Bai’ah  adalah berasal dari kata bay’a  yang  artinya menjual. Dalam praktek historis, bay’ah sudah dilaksanakan oleh Nabi selama 2 kali Bay’ah Aqobah I dan II) ketika  di Makkah dan kemudian dikembangkan dalam parktek berikutnya.

    Dari ketiga perspektif pemikiran tersebut  tampaknya mempunyai  elan vital di jamannya.  Pemikiran  sentralisme khalifah dan institusionalisme melihat bahwa hanya  elemen pemimpin   negaralah  yang  mampu  mempertahankan negara ancaman  kehancuran  dari  luar.  Artinya  pemikiran ini sebenarnya  tidak menafikan akan  arti  kelembagaan yang lain.  Sedangkan pemikiran organis muncul  sebagai  bentuk terapi  untuk  membangun kembali sistem  kenegaraan Islam yang  sudah tercabik-cabik, dengan   menempatkan  kekuatan organis sebagai penyangganya.

    Pemikiran Islam Modern

    Pemikiran Politik Islam modern mulai tampak  arusnya ketika  dunia Islam dalam kondisi terjajah  oleh  kekuatan barat.  Selama  ini  pemikiran  politik Islam,   merespon persoalan  internal bergeser kepada  persoalan  eksternal. Kondisi  keterpurukan  dunia  Islam  menjadikan   pengaruh ajaran   Islam  dalam keseharian  menjadi  pudar   bahkan terancam  punah  (perish). Hal ini  yang mengilhami  para tokoh  pembaharu Islam seperti Jamaludin al-Afghani  untuk mengumandangkan  produksi  pemikiran dalam  mensikapi dan menggalang umat Islam dalam menghadapi.

    Corak  yang  mendasar dari pemikiran  politik  Islam modern adalah sebagai berikut:

    1. Formulasi  pemikiran  sedikit  banyak  sebagai   respon kekalahan  dunia  Islam  atas Barat  daripada   sistem internal masyarakat Islam sendiri.

    2. Formulasi pemikiran sedikit banyak ingin  mengembalikan pelaksanaan ajaran Islam secara murni (salafi).

    3. Dalam   sifat   kenegaraan,  terpusatkan   pada   usaha pembebasan negara.

    Dalam  perkembangan  lanjut  terjadi  dinamika  yang cukup  beragam dalam meletakkan landasan  dasar  formulasi pemikiran.  Setidaknya formulasi pemikiran terpilah  dalam dua kelompok besar; pertama, Kalangan-kalangan yang  ingin meletakkan  usaha  permurnian  ajaran  Islam  (Purifikasi) sebagai jalan  satu-satunya usaha menghadapi  Barat.  Ada kecenderungan kalangan ini bersikap selektif bahkan sampai menolak   pemikiran  Barat,  dalam  kerangka pembangunan masyarakat.  Pemikiran  ini  sedikit  banyak   mendapatkan pengaruh  dari pemikiran Imam Hambali, Ibnu Taimiyyah,  di masa  klasik. Gerakan purifikasi tampak  difahami  sebagai sarana mengembalikan kejayaan Islam di masa sebelumnya.

    Sedangkan  kalangan yang kedua, yakni kalangan  yang sebelumnya melakukan kritik terhadap pemahaman Islam yang cenderung  konservatif. Kalangan ini  menjadi tercerahkan atau    dalam   penilaian   kelompok purifikasi telah terbaratkan.  Setidaknya pandangan ini berawal dari sikap akomodatif kepada Barat, di mana tercermin  dengan sikap untuk  membangkitkan Islam setidaknya meniru  model Barat dan  membangun  peradaban  Renaisance.  Hal inilah yang kemudian mengilhami konsep sekulerisasi pemikiran politik Islam yang selama ini difahami digunakan  secara sepihak oleh penguasa demi kelangsungan status quo. Pandangan  ini menemukan  titik  sentralnya dalam tulisan politik  Islam sekuler  pertama  yang  dilakukan oleh  Ali Abdul  Raziq, seorang  hakim  syari’ah  dan  dosen  di  Al-Azhar   dalam Kitabnya Al-Islam Al-Ushul Wa Al-Hukmi. Dengan gerakan ini maka  pengadopsian  pemikiran  Barat menjadi  salah  satu kebutuhan yang mendasar untuk membangun masyarakat Islam.

    Dalam  dinamika berikutnya, pemikiran politik  Islam tidak hanya merespon intervensi eksternal, yang selama ini dituduh sebagai sumber malapetaka di dunia Islam. Kekuatan eksternal  juga  telah memapankan eksistensinya  di  dunia Islam  dengan membentuk seperangkat sistem kemasyarakatan  yang  cukup kokoh  dalam  menyebarkan pengaruhnya.  Dari persoalan  inilah  muncul pemikiran Islam,  yang   lebih spesifik  yang lahir dari gerakan-gerakan sosial (harakah Islamiyyah), yang berusaha melakukan kritisi terhdap regim pro Barat.

    Format  yang  digunakan oleh organisasi  sosial  ini setidaknya terpilahkan dalam 2 pola besar, yakni: pertama, pola Ishlah (pembaharuan, memperbaiki sistem  (evolusi)). Kedua, pola inqilabiah (perombakan total, revolusi).  Dari dua pola  besar tersebut akhirnya terpola  dalam  4  pola besar:

    1. Gradualis-Adaptis, di mana organisasi yang termasuk  di dalamnya  adalah Ikhwanul  Muslimin  di  Maghribi  dan Jama’at Islami di Pakistan.

    2. Revolusioner  Syi’ah, di mana organisasi yang  termasuk di dalamnya adalah Partai Republik Islam  Iran,  Hizbi Ad-Da’wa  di  Iraq,  Hizbullah  Libanon, Jihad   Islam Libanon.

    3. Revolusioner Sunni, di mana organisasi yang termasuk di dalamnya  adalah AL-Jihad Mesir, Organisasi  Pembebasan Islam  Mesir, Ikhwanul Muslimin Siria, Jama’a Abu  Dzar Siria, Hizbi Tharir Jordania dan Siria.

    4. Messianis-Primitif, di mana organisasi yang termasuk di dalamnya  adalah Al-Ikhwan Saudi  Arabia,  Tafkir  Wal Hijra Mesir, Mahdiyya Sudan, Al-Arqam.

    Sedangkan  diskursus tentang besar  pemikiran  Islam tentang managemen kenegaraan dalam masa modern ditunjukkan oleh peristiwa keruntuhan khilafah Turki Utsmani di  1924. Hancurnya  model  kekhilafahan  klasik  ini memungkinkan munculnya   pemikiran-pemikiran  baru. Respon   terhadap fenomena  ini  muncul beberapa model pengelolaan  negara: Subtansialisme dan formalisme.

    Aliran   subtansialisme   berkecenderungan   melihat negara  sebagai  sesuatu yang otonom.  Negara  tidak  bisa dipengaruhi   oleh  keyakinan  ataupun   agama tertentu. Kalaupun ada pengaruh sebatas pada dataran semangat  tidak sampai menyentuh pada seluruh aspek.  Pandangan  substan-sialisme tercerahkan dengan semangat sekularisasi di dunia Islam.  Faham  ini dilontarkan pertama kali  oleh seorang Hakim sekaligus dosen Universitas Al-Azhar dalam  karyanya Al-Islam Ushul  Wa  Al-Hukmi,  Ali  Abdur  Raziq.   Dalam pemikiran  Ali Abdur Raziq, managemen negara Islam  selama ini  hanya  terpaku  kepada  ijtihad  ulama. Kekhilafahan selama  lebih dari 8 abad tidak lebih dari  produk  ulama.  Dan sejarah masyarakat Islam adalah tidak layak  digunakan sebagai  pembenaran sebuah kebijakan  masa  kini.  Banyak sekali  kebijakan  despotis negara berlangsung  dan  kebal kritik  karena didukung ulama atas nama  agama.

    Usulan  yang kontroversial dalam usaha merespon  dan sejajar  dengan managemen kenegaraan  Barat,  maka  dunia Islam  harus  merubah pola managemen  kenegaraan  seperti Barat. Dengan semboyan, Serahkan Hak Tuhan Pada Tuhan, dan Serahkan Hak Kaisar Pada Kaisar.

    Aliran  formalis berkecenderungan  melihat  kesamaan pola  bahwa keberadaan negara tidak bisa  dipisahkan  dari agama  seperti halnya pemikiran Islam Klasik. Agama  dalam batas  tertentu harus terlibat  dalam  urusan kenegaraan, simbol-simbol  agama  dimungkinkan tercermin  dalam  aspek kelembagaan  negara.  Pandangan formalis  ini  tercerahkan dengan    semangat Pan-Islamisme   (Persatuan    Islam). Kepeloporan   Pan-Islamisme  dikibarkan oleh   Al-Afghani maupun  Sayyid Rasyid Ridha. Sebelum  runtuhnya kekhilafahn  Utsmani,  Al-Afghani sering  diundang  ke  Turki untuk mempertahankan  secara teroritis   dan  konseptual tentang  legitimasi   lembaga kekhilafahan  yang  sedang mengalami  krisis  kepercayaan.

    Pan-Islamisme  dalam  batas tertentu  adalah  sebagai terapi  terakhir  untuk mencoba menghidupkan semangat kekhilafahan di dunia Islam. Dalam pemikiran formalisme ini mendapat  klarifikasi dari  Sayyid Abul A’la Al-Maududi. Maududi  melihat  bahwa organisasi kenegaraan adalah sesuatu yang integral dengan kekuasaan   Tuhan.  Suatu negara  itu  ada   karena   ada kedaulatan Tuhan atas negara, sehingga aturan-aturan dalam negara harus mencerminkan kedulatan Tuhan. Ungkapan ini kemudian diistilahi dengan istilah  theo-Demokrasi, sebagai bentuk pendefinisian kembali demokrasi menurut pandangan Islam.

    Pada akhirnya pandangan  formalis  Maududi adalah bagaimana  mengformat sebuah  negara adalah sebagai negara dunia  (world-state). Dan  ini tidak bisa dipisahkan dari konsep  kekhilafahan dalam   pemikiran   Islam  klasik. Sekaligus   Maududi memberikan klarifikasi tentang fenomena kerajaan di  dunia Islam,  secara  tegas Maududi  mengatakan bahwa  Khilafah Bukan Kerajaan. Khilafah dipandu oleh musyawarah sedangkan kerajaan dipandu oleh kepentingan kaum tertentu.  Kerajaan pada akhirnya hanya akan mengambalikan kekuasaan ke  dalam batas  wilayah,  ras dan kepentingan  tertentu.  Pandangan formalis  kemudian  banyak berdekatan  dengan   pemikiran fundamentalisme Islam yang ingin meletakkan urusan  agama dan negara adalah urusan yang satu (din wa daulah).

    1. a. Pemahaman Tentang Ilmu Politik Menurut Para Filosof

    ROD HAGUE

    Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya.

    ANDREW HEYWOOD

    Politik adalah kegiatan suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerjasama.

    CARL SCHMIDT

    Politik adalah suatu dunia yang didalamnya orang-orang lebih membuat keputusan – keputusan dari pada lembaga – lembaga abstrak.

    LITRE
    Politik didefinisikan sebagai ilmu memerintah dan mengatur Negara.
    ROBERT
    Definisi politik adalah seni memerintah dan mengatur masyarakat manusia.
    IBNU AQIL

    Politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rosulullah S.A.W .

    b. Pemahaman Ilmu Politik

    Menurut saya ilmu politik adalah suatu pemahaman tentang bagaimana tata cara untuk mendapatkan suatu tujuan. Pemahaman yang dimaksud ialah suatu sistem dimana seseorang/kelompok mempunyai konsep dalam menerapkan strateginya. Orang yang sudah terjun ke dunia politik dengan profesional ialah dia yang sudah terikat dengan organisasi tertentu. Setiap organisasi-organisasi yang ada pasti mempunyai ideologi yang berbeda-beda sesuai dengan tujuannya, tetapi 1 hal yang saya harapkan terhadap parpol-parpol yang ada di Indonesia adalah tetap mengedepankan ideologi bangsa kita yaitu pancasila agar dunia politik Indonesia tetap dalam asaz-asaz kebaikan.

Categories: Tak Berkategori | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Kharisma Andromeda – 105120500111041

  1. Ping-balik: DAFTAR NAMA KELAS (A.POL.1) « The First Political Class

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: